Manahan Solo dan Prestasi Gemilang Olahraga di Era Soeharto

Stadion Manahan merupakan mahakarya hebat yang dipersembahkan Keluarga Cendana, khususnya mendiang Siti Hartinah atau Tien Soeharto. Foto: Istimewa

Indonesiainside.id, Jakarta – Stadion Manahan Solo memasuki sejarah baru setelah dipugar besar-besaran dengan alokasi dana mencapai Rp301 miliar. Renovasi tersebut merupakan yang kedua setelah pertama kali dilakukan pada 2008 yang menghabiskan dana hanya Rp1,6 miliar.

Renovasi pertama dilakukan karena ada perbaikan saluran air dan penggantian rumput yang ditanam di stadion. Sepuluh tahun kemudian, Stadion Manahan kembali direnovasi dan diresmikan pada, Sabtu (15/2) oleh Presiden Joko Widodo. Sayangnya, tidak satupun anak cucu Soeharto yang diundang dalam peresmian tersebut.

Membangun dari nol tentunya tidak semudah merenovasi yang hanya melanjutkan ataupun sekadar mempercantik kemasan. Bisa dibayangkan, pada tahun 1989 mendapatkan lahan dan membangunnya di tengah Kota Solo bukanlah pekerjaan mudah.

Belum lagi menata infrastruktur di sekitar stadion. Perlu kerja keras, cerdas, dan kesabaran yang paripurna.

Sejak pertama kali dibangun, stadion tersebut dimaksudkan untuk memfasilitasi masyarakat Solo untuk berolahraga. Stadion Manahan merupakan mahakarya hebat yang dipersembahkan Keluarga Cendana, khususnya mendiang Siti Hartinah atau akrab disapa Tien Soeharto.

Saat itu, Tien Soeharto dikenal sebagai sosok ibu yang sangat mencintai olahraga. Bahkan, banyak sumber yang menyebutkan beliau adalah penggagas dari berdirinya Gelanggang Olahraga Manahan tersebut.

Jika di Jakarta memiliki Gelora Bung Karno (GBK), Tien Soeharto bercita-cita agar Solo memiliki stadion dengan fasilitas yang mirip dengan GBK, maka sejak 1989 pembangunan di atas lahan seluas 170.000 m2 pun dikerjakan.

Setelah sembilan tahun berjalan, bangunan seluas 33.300 m2 rampung dikerjakan. Presiden Kedua Republik Indonesia, HM Soeharto pun meresmikan stadion yang berdiri kokoh dan megah tersebut pada 21 Februari 1998.

Setelahnya, stadion tersebut pun menjadi oase bagi masyarakat sekitar yang sebelumnya mengidamkan adanya fasilitas olahraga. Ucapan terima kasih pun pantas diberikan kepada Yayasan Ibu Tien Soeharto yang banyak berjasa dalam pembangunan tersebut.

Betapa tidak, Yayasan Ibu Tien Soeharto berani menanggung pembiayaan Stadion Manahan yang tergolong mewah saat itu. Sebagai bagian dari lingkaran kekuasaan, Yayasan Ibu Tien Soeharto bersedia bekorban demi masyarakat yang saat itu sedang gemar-gemarnya berolahraga khususnya pada cabang favorit seperti sepak bola, bulu tangkis, dan voli.

Pemerintah Soeharto tahu persis bagaimana mengangkat harkat dan martabat bangsa, salah satunya lewat olahraga. Program Primavera yang digagas Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di era Soeharto dapat dikatakan sukses. Hasilnya, Timnas Indonesia diisi para pemain hebat mulai dari penjaga gawang hingga penyerang.

Tidak hanya sepak bola, tim bulu tangkis Indonesia pun dalam masa keemasannya di era Pak Harto. Piala Thomas dan Uber serta lahirnya pebulutangkis hebat baik putri dan putra pun tumbuh subur di era yang sering disebut Orde Baru tersebut.

Sebut saja Liem Swie King, Rudi Hartono, Susi Susanti, Rexy Ronald Mainaky, dan Ricky Subagja merupakan para pahlawan bulu tangkis yang tumbuh dan berprestasi di era tersebut. Bulu tangkis Indonesia pun mencapai kejayaannya yang membuat tim manapun berhitung.

Kondisi tersebut sekaligus sebagai bukti bahwa Keluarga Cendana memiliki konsep cemerlang dalam memajukan olahraga Tanah Air. Termasuk pembangunan kompleks Stadion atau Gelora Manahan yang dilengkapi fasilitas seperti lapangan bola sepak, lintasan lari, balap sepeda, voli, dan gedung olahraga.

Berikut daftar prestasi Indonesia pada cabang olahraga di era Pak Harto:

SEA Games
Indonesia berhasil 10 kali keluar sebagai juara umum sejak SEA Games pertama kali digelar 1959 di Bangkok, Thailand. Di bawah arahan Pak Harto, Kontingen Indonesia mampu dua kali cetak quattrick sebagai juara umum, yakni pada periode 1977 (Malaysia), 1979 (Indonesia), 1981 (Filipina), dan 1983 (Singapura) serta 1987 (Indonesia), 1989 (Malaysia), 1991 (Filipina) dan 1993 (Singapura).

Tidak hanya itu, bimbingan dan dukungan pemerintah di era Pak Harto mampu membuat atlet Indonesia berprestasi di luar kandang. Setidaknya enam kali Indonesia mampu menjadi juara umum di negeri orang, yakni pada SEA Games Kuala Lumpur 1977 dan 1989, Filipina 1981, Singapura 1983 dan 1993, serta Manila 1991.

Indonesia kembali menjadi juara umum pada 2011 atau di era Susilo Bambang Yudhoyono. Itu pun pada kesempatan SEA Games ke-26 di Jakarta dan Palembang alias di rumah sendiri.

Meskipun masih menjadi yang terbanyak sebagai juara umum, nyatanya prestasi Kontingen Indonesia cenderung menurun di ajang SEA Games. Meskipun, Indonesia mampu memperbaiki rekor pada ajang Asian Games 2018 lalu.

Piala Thomas
Tim bulu tangkis putra dan putri Indonesia tidak perlu diragukan kemampuannya di saat Keluarga Cendana berkuasa. Total ada 13 Piala Thomas masuk ke lemari kaca Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sejak 1958 hingga 2002.

Sebanyak delapan dari 13 trofi tersebut lahir di era Pak Harto. Namun, trofi Piala Thomas ke-11 atau yang diraih 24 Mei 1998 menjadi kado terakhir para pebulu tangkis untuk Soeharto. Pasalnya, trofi tersebut diraih tiga hari setelah Pak Harto meletakkan jabatannya sebagai presiden.

Saat itu, Piala Thomas dimulai 15 Mei 1998 di Hong Kong saat kondisi politik dalam negeri memanas. Bahkan, sisa-sisa kerusuhan masih tampak saat kejuaraan yang diikuti delapan negara termasuk Indonesia tersebut dimainkan.

Piala Uber
Meski tidak sementereng tim putra, Tim Uber Indonesia sejatinya mampu berpretasi dengan menjadi juara sebanyak tiga kali. Semuanya terjadi di era Pak Harto, yakni 1975 dan 1994 di Jakarta serta 1996 di Hong Kong.

Setelahnya dan hingga terakhir digelar 2018, Tim Uber Indonesia tidak pernah lagi juara. Pada gelaran ke-17 atau yang dimainkan pada 1998, Tim Uber Indonesia kalah 1-4 dari Cina di babak final.

Satu dasawarsa kemudian, Indonesia kembali masuk final dan lagi-lagi menelan kekalahan. Setelah 10 tahun, saat Thailand menjadi tuan rumah pada 2018, Tim Uber Indonesia justru tersingkir di babak perempat final.

Medali Emas SEA Games Cabang Olahraga Sepak Bola
SEA Games 1979 yang digelar di Jakarta adalah sejarah bagi Timnas Indonesia setelah meraih medali pertama pada cabang sepak bola. Sebagai tuan rumah, Rully Nere dan Ronny Pattinasarany sukses menembus babak final setelah pada SEA Games sebelumnya hanya menempati urutan keempat.

Sayangnya, gol semata wayang Mokhtar Dahari pada menit ke-21 membuat medali emas menjadi miliki Malaysia. Indonesia pun harus puas dengan medali perak. Saat itu, PSSI diketuai Bardosono.

Pada SEA Games 1987 di Jakarta, Soeharto tidak ingin kegagalan Indonesia sebagai juara umum di Bangkok dua tahun sebelumnya terulang. Pasalnya, Indonesia sudah akrab dengan status juara umum kecuali pada SEA Games 1985 dan 1995 yang keduanya digelar di Bangkok.

Di era Soeharto, jangankan peringkat kelima, mengetahui Indonesia berada di posisi kedua klasemen perolehan medali merupakan sebuah aib. Alhasil, Menpora Abdul Gafur saat itu dipanggil untuk memberikan laporan lengkap soal turunnya peringkat Indonesia.

“Presiden Soeharto amat risau dengan kegagalan Indonesia meraih juara umum SEA Games XIII di Bangkok,” kata tokoh olahraga Indonesia Mangombar Ferdinand Siregar yang ikut hadir dalam pertemuan tersebut.

Alhasil, SEA Games 1987 yang digelar di Jakarta berakhir manis. Selain menjadi juara umum, Timnas Indonesia berhasil meraih medali emas pertama dalam sejarah usai mengalahkan Malaysia sebagai musuh bebuyutan 1-0.

Tidak hanya sekali, sepak bola Indonesia di era Pak Harto dua kali menyumbang medali. Kali ini, medali emas yang diraih pada SEA Games ke-16 di Manila, 1991. Saat itu, Indonesia yang diperkuat Aji Santoso, Rochy Putiray, Robby Darwis, dan Widodo C Putro sukses mengalahkan Thailand lewat drama adu penalti.

Menjadi juara umum di ajang SEA Games belum lengkap jika tidak mendapatkan medali emas pada cabang olahraga sepak bola . Nyatanya, era Soeharto mampu mempersembahkan hal tersebut untuk Ibu Pertiwi. (ASF)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here