Ini Penyebab Tingkat Partisipasi Pemilu Rendah

Hidayat-Nur-Wahid
Anggota DPR sekaligus Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid. Foto: Istimewa

Oleh: Rengga Permana

Janji kampanye yang tak sinkron dengan jalannya pemerintahan, menjadikan masyarakat antipati. Dampaknya, partisipasi pemilik suara dalam pemilu tak signifikan, bahkan cenderung rendah.

Indonesiainside.id, Jakarta — Wakil Ketua Dewan Penasihat Badan Pemenangan (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Hidayat Nur Wahid menyebut trend partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum, penting untuk dipelajari. Jangan hanya menyalahkan mereka jika partisipasinya rendah.

“Kalau ini dinilai rakyat enggak ada manfaatnya atau kurang manfaatnya, memang mereka cari altermatif. Alternatifnya bisa jadi golput,” ujar Hidayat di Jakarta.

Ia menyebut, masyarakat tak bisa dibodohi dengan tidak sinkronnya janji pemilu dan kenyataan. Wajar jika pemilik suara cenderung apatis karena janji manis hanya sekedar janji.

Terlebih, kata Hidayat, banyak pihak yang seharusnya bertanggung jawab, berkilah saat dikritisi. Sehingga masyarakat memilh alternatif untuk tidak memilih.

“Mereka mengatakan buat apa memilih, misalnya,” ujar Hidayat.

Selain itu, Hidayat juga mengkritisi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Sebab mereka juga mempengaruhi partisipasi masyarakat di pemilu. Misalnya untuk urusan dukung-mendukung oleh kepala daerah.

“Ada kepala derah yang acungkan dua jari diperkarakan, tapi banyak kepala daerah mengacungkan satu jari tidak diperkarakan. Kayak gini buat orang apatis,” tandasnya.

Seperti diketahui, tingkat partisipasi masyarakat dalam pilpres terus menurun. Terakhir pada 2014, hanya 69,58 persen masyarakat berpartisipasi. (TA)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here