Empat Wanita Suci: Khadijah, Ibu Kaum Muslimin (2)

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Ketika wahyu pertama turun yang terdapat pada surat al-Alaq ayat 1-5, Nabi SAW bergegas menemui istrinya dan minta agar diselimuti, dan Khadijah pun menyelimutinya.

Beliau menceritakan pristiwa yang baru saja dialaminya, dan mengatakan, bahwa dirinya benar-benar merasa takut. Khadijah sang istri Nabi SAW berkata, “Allah tidak akan mencelakaimu. Sesungguhnya engkau orang yang menyambung tali silaturrahim, memikul beban orang yang kelelahan, menolong orang yang kesusahan, menghormati tamu, dan membantu para penegak kebenaran.”

Khadijah lalu mengajak Nabi SAW menemui Waraqah bin Naufal, yang masih tergolong kerabatnya, seorang Ahli Kitab beragama Nasrani, dan ia juga penulis beberapa kitab tentang agamanya.

Saat itu, dia sudah tua renta, ketika Khadijah menceritakan pristiwa yang dialami suaminya. Waraqah menerangkan bahwa yang bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad itu adalah Malaikat yang dahulu diutus Allah SAW kepada Nabi Musa As.

“Andai saja saya masih muda dan bisa membantumu… Andai aku masih hidup saat engkau diusir oleh kaummu.”

Nabi SAW bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?”

Benar, tidak seorang pun yang membawa risalah seperti yang kamu bawa kecuali diusir oleh kaumnya. Jika saat pengusiran itu terjadi dan aku masih hidup, aku akan menolongmu mati-matian,” jawab Waraqah.

Tak lama setelah itu, ia pun meninggal. Disebutkan pula bahwa Waraqah berkata pada Khadijah, jika yang dikatakannya benar, maka ketahuilah bahwa Muhammad ini seorang Rasul. Tak lama setelah itu, Malaikat Jibril dan Mikail datang menemuinya.

Mereka diutus oleh Allah untuk membelah dadanya. Khadijah adalah orang yang pertama kali percaya akan kerasulan Muhammad SAW dan orang yang pertama mendengar wahyu diturunkan.

Keislaman muncul dari fitrah manusia yang masih bersih, senantiasa berharap akan datangnya cahaya. Ia dikarunia kecerdasan dan kemuliaan yang tidak dimiliki wanita lain sepanjang sejarah.

Sebagai seorang istri, Khadijah menjadikan rumah tangganya penuh dengan berkah dan cahaya, menerangi dunia dan isinya. Tanda keberkahan paling menonjol adalah semua putrinya sebagai generasi pertama masuk Islam, termasuk juga orang yang tinggal bersama mereka, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah.

Penghuni rumah itu berlomba-lomba mengimani Allah SWT dan mempercayai kenabian Muhammad SAW. Karena itu, sebagaimana ditulis Imam at-Thabari:

“Rumah Khadijah adalah tempat paling mulia di Makkah setelah Masjidil Haram. Hal itu terjadi karena adanya Rasulullah SAW yang tinggal di dalamnya. Penghuni rumah itu, telah disediakan tempat istimewa di surga. Mereka sekeluarga masuk surga bersama-sama.

Imam al-Fasi menyebutkan, bahwa rumah yang penuh berkah di Makkah adalah rumah Ummul Mu’minin Khadijah. Di rumah inilah wanita terbaik sedunia dilahirkan, Fatimah binti Muhammad SAW.

Begitu juga dengan saudara-saudaranya. Selain itu, Nabi SAW juga menikahi Khadijah di rumah itu, dan Khadijah meninggal di situ. Setelah Khadijah meninggal Nabi SAW masih tetap setia tinggal di rumah tersebut.

Namun, setelah beliau hijrah ke Madinah, rumah itu ditempati Uqail bin Abu Thalib, kemudian dibeli oleh Muawiyah bin Abu Sufyan, yang saat itu menjadi Khalifah untuk dijadikan masjid.

Karena itu, tambah al-Fasi, di rumah ini, doa mustajab pada malam Jumat. Khadijah hidup bersama Rasulullah SAW selama kurang lebih 25 tahun.

Selama itu, ia menjadi istri yang setia. Selalu bersama Nabi SAW dalam suka maupun duka. Ia melakukan semua apa saja yang menjadikan suami ridha dan bahagia. Semua orang yang dicintai suaminya, ia perlakukan dengan baik, dan ini menjadikan Rasulullah SAW makin sayang dan cinta padanya.

Kebaikan dan kemuliaan telah mengangkat derajatnya semakin tinggi. Bahkan, setelah pernikahannya dengan Rasulullah SAW, wilayah Arab mengalami musim kering dan paceklik.

Saat itu, Halimah as-Sa’diyah, ibu susu Nabi SAW, berkunjung ke rumah Khadijah, maka, ia memberinya satu ekor onta yang dipenuhi air minum dan 40 ekor kambing.

Begitu pula, ketika Tsuwaibah, ibu susu pertama Rasulullah SAW mengunjungi Khadijah, ia benar-benar dimuliakan. Khadijah adalah wanita penyabar, sebagaimana digambarkan oleh Ibn Ishaq, bahwa ia adalah orang pertama kali mengimani Allah dan Rasul-Nya.

Ia percaya akan risalah yang dibawa oleh Rasulullah. Itulah yang menjadikan beban Rasul terasa ringan. Sikap kaum musyrikin yang mendustakan risalah kenabian tentu membuat beliau sedih.

Namun sikap Khadijah yang mempercayai risalah kenabian dan tetap memberi semangat, menghilangkan kesedihan itu. Setelah itu, semua sikap penolakan dari kaum musyrikin tidak dipedulikan.

Tatkala Nabi SAW mulai mengemban risalah, memberikan kabar gembira dan ancaman, mengajak kaumnya keluar dari kegelapan Jahiliah menuju cahaya Islam, mereka mendustakan dan mengolok-oloknya.

Saat itulah, Khadijah tampil sekuat tenaga untuk membela dan meringankan beban sang suami. Aka tetapi, kaum Quraisy benar-benar keras kepala, karena bencinya terhadap dakwah Nabi SAW hingga mereka melakukan embargo (muqatha’ah) terhadap Bani Hasyim selama tiga tahun, dan Khadijah turut mengalami pahitnya embargo tersebut.

Dalam suasana yang sulit itu, ketika Rasulullah SAW didustakan kaumnya, bahkan tega melakukan embargo terhadapnya, Khadijah tetap setia membela suaminya, merasakan penderitaan yang beliau jalani, hingga pada akhirnya embargo dicabut.

Khadijah lulus berkat kesabaranya. Dia adalah istri setia dalam kondisi apa pun, demi membela suaminya yang sedang berdakwah. Tidak berapa lama setelah lepas dari jeratan embargo, Ummul Mukminin, Khadijah pun wafat di Makkah, dalam usianya yang ke-65, tiga tahun sebelum hijrah. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here