Evaluasi Diri Sebelum Hari Evaluasi Tiba

Muhasabah diri
Ilustrasi Muhasabah diri. Foto: Istimewa

Suatu ketika, sahabat yang bernama Abu Thalhah Ra menunaikan shalat. Di sela-selanya, tiba-tiba ia teringat kebun kesayangan. Shalatnya jadi tak khusyuk, hati yang sedianya tenang menjadi sibuk.

Usai shalat –dengan ikhlash-, ia sedekahkan sebagian dari kebunnya fi sabilillah (di jalan Allah). Apa yang dilakukan oleh Abu Thalhah ini mungkin tak masuk akal bagi kebanyakan manusia modern yang mencari materi. Ditinjau dari untung-rugi bisnis, yang dilakukannya adalah masuk kategori tindakan tak logis, bahkan ironis.

Lain halnya dengan pandangan seorang Mu’min. Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam magnum opusnya berjudul, Minhāju al-Muslim (79), menilai sikap Abu Thalhah sebagai upaya ril dalam muhāsabah nafs (evaluasi diri).

Beliau menjelaskan, “muhasabah nafs adalah salah satu metode untuk memperbaiki, mendidik, dan mensucikan diri”. Bukankah dengan tegas Allah mengabarkan, bahwa jiwa yang suci akan mengantar pada keuntungan pribadi, jika sebaliknya akan menjadi orang merugi? (QS. Asy-Syams [91]: 9-10).

Karena itulah, bagi setiap Muslim, evaluasi diri sangat penting dan berarti. Ada beberapa penjelasan mengapa muhasabah nafs sangat penting.

Pertama, dalam Surah al-Hasyr: 18, orang-orang beriman diperintahkan melihat (mengevaluasi) apa yang telah diperbuat diri di masa lalu untuk (persiapan) hari esok (masa depan).

Kedua, Imam Turmudzi meriwayatkan sabda Nabi, bahwa indikator orang cerdas adalah yang mau mengevaluasi dirinya sebagai bekal untuk kehidupan akhir.

Khalifah Kedua, Umar bin Khattab pun pernah berwasiat, “Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum dihisab! Timbanglah diri kalian sebelum ditimbang! Bersiaplah untuk (menghadapi) Akhirat!” (Ihya, 4/396).

Artinya, setiap orang harus bisa menghisab (evaluasi) dirinya sebelum yaumul hisab (hari penghitungan amal) tiba. Ada beberapa cerita menarik dari kalangan ulama-ulama shalih yang perlu diteladani, terkait evaluasi diri.

Ahnaf bin Qais –seorang salaf shalih- pergi mendatangi lampu yang terbuat dari api. Ia letakkan kedua tangan di dekatnya supaya merasakan panasnya api. Kemudian ia berdialog dengan dirinya sendiri:

“Wahai Ahnaf! Apa yang mendorongmu melakukan perbuatan ini pada waktu itu?” ia ulangi kata-kata itu dua kali sebagai upaya mengevaluasi diri. Ada juga yang lebih fenomenal. Salah seorang salaf shalih pergi menuju gurun pasir. Saat tiba, ia berguling-guling di atasnya seraya berkata pada dirinya, “Rasakan! Sungguh neraka Jahannam jauh lebih panas.”

Cerita tersebut sama sekali tak dimaksudkan untuk ditiru mentah-mentah. Karena setiap orang memiliki caranya sendiri dalam muhasabah nafs. Hanya saja, yang terpenting di sini ialah kesadaran untuk mengevaluasi diri harus selalu dipacu.

Coba kita sejenak memuhasabah nikmat waktu. Sudahkah kita mengevaluasinya dengan baik?

Ada catatan menarik dari Imam al-Ghazali yang perlu diperhatikan. Jika dalam sehari tidur delapan jam, maka kalau umur rata-rata manusia 60 tahun, maka selama hidup akan mengabiskan tidur selama 20 tahun (Ihyā `Ulūmi al-Dīn, 1/339). Bayangkan! 20 tahun hanya digunakan untuk tidur?

Sebagai evaluasi diri, bisa ditanyakan pada masing-masing pribadi: Sejauh ini sudah berapa lamakah waktu kita gunakan hanya untuk tidur? Lebih banyak mana waktu yang dialokasikan untuk mengingat Allah dibandingkan mengingat selainNya?

Nabi pernah bercerita, bahwa kelak penduduk surga ada yang menyesal gara-gara ada satu waktu yang membuat mereka lalai dari mengingat Allah (HR. Hakim, Thabrani, Baihaqi).

Penduduk surga saja kelak menyesal, apa lagi kita? Sudahkah kita mengevaluasi diri untuk persiapan masa depan dunia-akhirat? Allah pun mewanti-wanti:

“Dan adapun orang yang takut pada kedudukan Tuhannya, serta mencegah dirinya dari hawa nafsu, maka sungguh surgalah yang akan menjadi tempat tinggalnya” (QS. An-Naziat [79]: 40). (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here