Munajat Cinta di Atas Cinta

Ilustrasi. Foto: Istimewa

“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon cinta-Mu, serta cinta orang yang mencintai-Mu, dan amal yang bisa menyampaikanku pada cinta-Mu.”

Demikian penggalan doa atau munajat cinta di atas cinta yang biasa disenandungkan oleh Nabi Daud As. Abu Darda menceritakan bahwa Nabi bersabda mengenai salah satu doa Nabi Daud tersebut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي، وَمِنَ المَاءِ البَارِدِ

Allahumma inni as`aluka hubbak, wahubba man yuhibbuk, wal-‘amala alladzi yuballighuniy hubbak, allahummaj’al hubbaka ilayya min nafsi wa-ahli waminal-maa`il-baarid

“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon cinta-Mu, serta cinta orang yang mencintai-Mu, dan amal yang bisa menyampaikanku pada cinta-Mu. Ya Allah! Jadikan cinta-Mu lebih aku cintai daripada cinta pada diri dan keluargaku serta air yang dingin.” (HR. Tirmidzi)

Setelah menyebutkan doa tersebut, Nabi memberi semacam testimoni tentang Nabi Daud, “Beliau merupakan manusia yang paling ahli ibadah.”

Dalam versi lain –sebagaimana yang termaktub dalam kitab “Jaami’ al-‘Uluum wal-Hikam” (II/340) karya Zainuddin As-Sulamy– disebutkan bahwa untaian doa itu didapat Nabi Muhammad SAW dalam mimpi. Saat itu, Jibril mengajarkan doa tersebut. Sedangkan mimpi Nabi adalah wahyu.

Tidak ada pertentangan dari dua hadits tadi. Malah, hadits tersebut menunjukkan bahwa doa ini, selain juga biasa dilantunkan oleh Nabi setelah Muhammad SAW, juga dianjurkan kepada umat Rasulullah Muhammad SAW.

Bila direnungkan, kandungan hadits tersebut sangat dalam.

Pertama, memohon cinta Allah sebagai puncak dan sumbu cinta. Bayangkan! Ketika cinta Allah menjadi muara hidup, menjadi nafasnya, maka Allah akan membimbing ke segala arah yang dicintai-Nya. Ending-nya, Allah tidak akan mencampakkan orang yang dicintai-Nya atau tak kan menjebloskannya ke dalam neraka.

Kedua, memohon ditautkan dengan orang-orang yang juga cinta kepada Allah. Suatu ketika Nabi bersabda, “Engkau akan bersama orang-orang yang engkau cintai.” Maka, dengan mencintai orang-orang yang mencintai Allah, berarti telah menyatukan frekuensi cinta kepada Allah dan ini menjadi energi dahsyat yang bisa melenyapkan segala angkara dan sifat yang tidak terpuji.

Ketiga, selain cinta Allah, orang yang mencinta-Nya juga memohon cinta pada amal saleh yang bisa mengantarkan cinta sejati kepada Allah.

Orang semacam ini tidak akan berhenti pada selogan romantis atau picisan tentang cinta. Cintanya dibuktikan dengan permohonan tulus tiada henti, mencari komunitas saleh yang sama-sama mencintai Allah sembari memanivestasikan bukti cintanya dengan mengamalkan segala hal yang bisa menyulut cinta Allah.

Keempat, pada puncak munajat ada permintaan yang menggambarkan rasa cinta paripurna, yaitu: menjadikan cinta Allah melebihi segala cinta. Hamba yang demikian, memprioritaskan dan menomersatukan cinta Allah di atas segala cinta. Melebihi cintanya kepada keluarga, harta, air dingin (saat dalam kondisi kehausan) atau apapun bentuknya.

Orang yang demikianlah yang akan mengecap manisnya iman. Sebagaimana hadits Bukhari berikut:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada tiga kualifikasi sifat orang yang jika dimiliki, bisa merasakan manisnya iman: (1) Menjadikan cinta Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dibandingkan cinta lainnya (2) Mencintai seseorang, hanya karena Allah (3) Benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dijebloskan ke dalam neraka.”

Munajat cinta yang terkandung dalam doa tadi begitu dahsyat. Ini bisa disebut cinta di atas cinta. Ia bukan saja memandu arah cinta yang benar, tapi juga memberi arah cinta agar tidak tersesat pada cinta palsu.

Mari mereguk manisnya cinta dengan mencintai sesuatu yang bernilai abadi. Semoga kita dikumpulkan bersama orang-orang yang hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Betapa romantisnya ketika kelak saat kita ada kesalahan yang membuat masuk neraka, kemudian tanpa disangka kita mendapat syafaat dari Nabi dan doa orang-orang yang mencintai kita, “Ya Allah! Mohon jangan masukkan ia ke dalam neraka. Kami bersaksi bahwa ia mencintai-Mu dan kami mencintainya. Sandingkanlah ia bersama kami di surga!” Allahu Akbar! (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here