Kekuatan Iman dalam Membungkam Kezaliman

ilustrasi berdoa
Ilustrasi berdoa. Foto: shutterstock

Pada tahun 1964 –era Orde Lama saat didominasi oleh orang PKI– banyak ulama yang tidak pro pemerintah difitnah dan dipenjara tanpa peradilan. Bahkan, tak sedikit yang mengalami siksaan dalam tahanan.

Salah satu ulama yang difitnah dan ditahan kala itu adalah Buya Hamka. Beliau diambil oleh petugas berwajib pada 27 Januari 1964 bertepatan dengan 12 Ramadhan 1383 H.

Hamka bercerita, saat beliau ditahan di Sukabumi, sebagaimana tahanan yang lain, beliau dicecar dengan berbagai pertanyaan untuk penyelidikan. Bahkan alat listrik siap untuk digunakan untuk menyetrom beliau.

Anehnya, sepanjang pemeriksaan, ada keanehan. Petugas yang tadinya ingin menyiksa beliau, tak kuasa melakukan rencana jahatnya. Alih-alih menyiksanya.

Waktu itu yang memeriksa beliau ada tiga orang. Pasca pemeriksaan, mereka satu per satu masuk ke ruangan tahanan beliau dan bertanya bacaan atau wirid apa yang diucapkan beliau sampai mereka seperti tak bisa berbuat apa-apa di hadapan beliau.

Awalnya, Hamka mengira mereka main-main atau meledek. Ternyata mereka sungguh-sungguh. Akhirnya, beliau menuliskan doa berikut:

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Ya Allah, aku pasrahkan jiwaku kepada-Mu, dan kuhadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan berharap-harap cemas kepada-Mu, sesungguhnya tidak ada tempat bersandar dan tempat keselamatan selain kepada-Mu, saya beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan nabi-Mu yang Engkau utus.” (HR. Bukhari)

Namun, yang menyelamatkan beliau itu bukan terutama doa ini, tapi kekuatan imanlah yang membuat Allah membungkam kezaliman mereka sehingga tak mampu menyiksa Hamka.

Karena itulah, kata beliau, “Doa-doa semacam ini hanyalah ekstra saja, ibarat kembang dalam jambangan penghias saja. Kalau saudara-saudara tidak melakukan yang penting, yaitu shalat lima waktu, doa ini tidak ada faedahnya.”

Kisah ini menunjukkan bahwa kezaliman apa pun macam dan jenisnya, pada akhirnya tidak akan bisa melawan keimanan. Di hadapan keimanan yang teguh, maka ia akan bungkam. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here