Kisah Pemuda Nakal yang Akhirnya Jadi Ulama Terkenal

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Saat muda, ia merupakan pemuda nakal. Menurut istilah Minangkabau, ia disebut “perewa”.

Hampir semua macam kejahatan orang muda, sudah pernah dilakukan oleh pemuda ini, seperti menggunakan candu dan lain sebagainya.

Ia terus melakukan kenakalannya sampai akhirnya ada peristiwa penting yang membuatnya insaf dari segala kenakalannya.

Pada suatu malam, saat hendak bersenang-senang melampiaskan hasrat mudanya, di tengah jalan saat sedang berjalan santai terjadi sesuatu yang di luar dugaannya.

Tak jauh dari tempat dia berjalan, ada maling yang sedang dikejar-kejar orang kampung. “Maling! Maling!” teriak orang kampung sembari mengejarnya.

Pemuda ini sejak awal memang tidak ada niat untuk maling, tapi karena ia takut tertuduh maling, akhirnya segera bersembunyi.

Malam itu, pemuda itu bersembunyi dalam empang di halaman masjid di tengah gulita malam sambil tidur miring agar bisa bernafas.

Malangnya, saat dalam proses pengejaran, ada warga yang membawa suluh pencari maling memukulkan pentung suluhnya ke tempat persembunyian pemuda tersebut.

Pentungan suluh itu mengenai pinggangnya. Dan pemuda itu kesakitan.

Dalam keadaan menahan sakit, pemuda itu terus bersembunyi sampai orang-orang yang mengejar maling sudah jauh.

Saat adzan shubuh berkumandang, tiba-tiba pemuda itu berlinang air mata. Seringkali ia mendengar adzan, tapi adzan shubuh ini benar-benar mengguncang sanubarinya.

Sebelum banyak orang pergi shalat ke masjid, ia segera keluar dari empang dan secara sembunyi-sembunyi ia pergi ke rumah ibunya.

Sejak kejadian ini, pemuda itu bertekad untuk berubah. Ia mau bertaubat dari kebiasaan nakalnya.

Ketika hari sudah mulai siang, sambil berlinang air mata ia menemui ayahnya yang merupakan Penghulu Kepala di Gurun Panjang.

Pada kesempatan itu, ia memohon kepada ayahnya agar dikirim ke Mekah untuk belajar. Ayahnya kaget campur haru. Anak yang sebelumnya sangat nakal ini tiba-tiba berubah.

Setelah berpikir dengan panjang, ayah pemuda ini mengabulkan permintaannya. Dan dikirimlah sang pemuda ke kota suci Mekah.

Di sana ia belajar sungguh-sungguh kepada ulama Mekah selama bertahun-tahun. Saat pulang ke tanah air, ia sudah menjadi Ulama Besar yang disegani dan dicintai oleh masyarakat Minangkabau.

Kisah pemuda ini hampir mirip dengan hayat Fudhail bin Iyadh. Seorang ulama besar, yang memiliki masa lalu kelam. Namun, karena hidayah Allah, akhirnya bertaubat dan di kemudian hari menjadi ulama kenamaan.

Pemuda yang diceritakan tadi adalah Syekh Muhammad Jamil Jambek. Seorang ulama ahli falak masyhur dari Minangkabau. Beliau termasuk ulama yang membawa pembaharuan dan kemajuan agama di wilayah ini.

Kisah ini diceritakan langsung oleh beliau sembari berkaca-kaca kepada Buya Hamka pada sekitar tahun 1940. Dan dimuat dalam tafsir Al-Azharnya.

Di antara pelajaran menarik dari kisah ini. Pertama, hidayah adalah misteri ilahi. Pemuda yang dalam pandangan orang umum nakal, pada akhirnya bisa berubah dan bahkan menjadi ulama besar.

Kedua, seburuk dan senakal apa pun, tiada kata putus asa untuk berubah menjadi baik. Ketiga, ketika hidayah sudah datang, maka segera sambut dan lakukanlah yang terbaik. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here