Menguji Kebolehan Merayakan Hari Valentine

penculikan anak
Ilustrasi. Foto: Istimewa

Pada prinsipnya, dalam hal keduniaan, selama tidak ada larangan tegas, maka hukumnya mubah atau halal.

Bagaimana jika ada umat Islam ikut merayakan Hari Valentine? Kalau lolos dari tiga tes uji kebolehan berikut, maka bisa dinyatakan boleh melakukannya bagi umat Islam.

Pertama, adakah unsur “tasyabuh” (penyerupaan) di dalamnya? Dalam hadits Nabi disebutkan:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka di bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud)

Dalam kitab “Aunul-Ma’bud” karya Muhammad Asyraf Adhim Abadi yang merupakan penjelas dari kitab Sunan Abu Dawud, disebutkan argumen Imam Ahmad dan semacamnya bahwa hadits ini minimal sebagai dalil larangan menyerupai mereka (orang-orang non-muslim).

Penyerupaan di sini misalnya dalam hal syiar-syiar atau simbol keagamaan khas yang ada pada agama tertentu. Dalam hadits Bukhari misalnya, ada semacam peringatan mengenai menyerupai bahkan mengikuti budaya suatu kaum.

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ» ، قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ: اليَهُودَ، وَالنَّصَارَى قَالَ: «فَمَنْ»

“Sungguh kaluan benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai jika orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhab (semacam biawak) pun, pasti kalian ikuti.” Sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi”

Ditinjau dari sejarahnya, Valentine Day berawal dari matinya martir Kristen St Valentine pada 14 Februari 270 M pada masa Pemerintahan Kaisar Constantin Agung (280-337 M) karena menolak kebijakan kaisar yang melarang terjadinya pertunangan dan pernikahan.

Pada masa Paus Gelasius I, dengan tujuan untuk lebih dekat dengan ajaran Kristen, maka pada tahun 495 upacara Romawi Kuna diubah menjadi perayaan gereja dengan nama Saint Valentine Day.

Dari sejarah versi ini, nyatalah bahwa ada muatan simbol, syiar, tertentu yang melatari hari yang disebut Kasih Sayang ini. Berkaitan erat dengan budaya perayaan Romawi yang dipadu dengan perayaan gereja.

Bila “tasyabuh” dalam hari Valentine sudah pada level ini, maka tidak bisa dikatakan halal atau lulus uji kehalalan.

Kedua, apakah Hari Valentine merupakan hari raya? Kalau bukan hari raya, maka tentu boleh. Pada kenyataannya, dalam Hari Valentine ada unsur perayaan seperti kara “merayakan”, ucapan selamat, memberi bunga dan semacamnya. Lebih jauh, dilihat dari sejarahnya, memang tidak lepas dari perayaan.

Dalam Islam, hari raya besarnya hanya ada dua yaitu: Idul Fitri dan Idul Adha. Setiap umat memiliki hari idnya, dan dua itulah hari raya umat Islam. Nabi bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا، وَإِنَّ عِيدَنَا هَذَا اليَوْمُ
“Sesungguhnya tiap-tiap kaum memiliki hari raya. Sedangkan hari raya kita adalah hari ini.” (HR. Bukhari, Muslim) Maksudnya adalah Idul Fitri dan Adha.

Oleh karena itu, di luar hari raya itu, maka umat Islam tidak dibenarkan merayakannya. Kalau Hari Valentine positif masuk kategori hari raya, maka jelas tidak bisa disebut mubah.

Ketiga, apakah di dalamnya bersih dari kekejian, kemaksiatan dan dosa?

Kalau dilihat dari sejarah Hari Valentine, cinta yang ingin ditebarkan adalah cinta yang dihidupkan sejak perayaan Hari Valentine saat itu. Cinta murni yang keluar dari bingkai perkawinan syariat.

Akibatnya, banyak terjadi perzinaan, perbuatan keji dan berbagai kemaksiatan lainnya. Jika orang merayakan Hari Valentine dan ujungnya adalah melakukan perbuatan keji dan kemaksiatan, maka jelas keharamannya.

Faktanya yang terjadi hingga saat ini seperti bagaimana? Tak sedikit berita yang menyatakan pasangan muda-mudi yang bukan suami-istri melakukan perbuatan mesum, dan kemaksiatan lain yang terlarang dalam kaca mata Islam.

Intinya, bagi umat Islam –terutama para pemuda dan pemudinya—yang hendak ikut seyogianya memperhatikan tiga poin di atas. Jangan sampai atas nama cinta, menghalalkan segala cara, bahkan aturan agama dikesampingkan begitu saja.

Alangkah sedihnya ketika kelak sudah berada di depan telaga Kautsar, kemudian oleh Rasulullah SAW ditolak, “Dia bukan dari umatku,” gara-gara ketika di dunia suka menyerupai suatu kaum dan jauh dari syariat Islam. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here