Bulan Rajab: Bersiap Menyongsong Ramadhan

Ilustrasi seorang sedang membaca al quran. Foto: Muhammad Zubeir/Indonesiainside.id

Tiga hari lagi, pada Selasa, 25 Februari 2020, kita akan memasuki bulan Rajab. Setelah Rajab, masuk bulan Sya’ban, kemudian 1 Ramadhan pada akhir April 2020.

Artinya, dua bulan sebelum Ramadhan, yaitu Rajab dan Sya’ban, sebaiknya kita sudah siap-siap menyongsong bulan suci Ramadhan 1441 Hijriyah. Untuk lebih siap menuju Ramadhan, maka penting diketahui hal terkait dengan bulan Rajab.

Secara bahasa, Rajab berarti mengagungkan atau memuliakan. Menurut catatan Ibnu Rajab Al-Hanbali, dinamakan Rajab di antaranya karena pada bulan ini para malaikat (semakin) mengagungkan Allah dengan bertasbih dan bertahmid (memuji Allah).

Bulan ini memiliki beberapa nama: Syahrullah (bulan Allah), Rajab, Rajab Mudhar, Manshal Asinnah, Al-Asham, Al-Ashab, Munaffis, Muthahhir, Mu’li, Muqim, Haram, Muqasyqisy, Mubri dan Fard.

Bulan Rajab adalah termasuk bulan Haram yang oleh Allah diharamkan untuk berperang, apalagi berbuat dosa.

Allah berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS. At-Taubah [9]: 36)

Terkait bulan Haram ini, Ibnu Abbas berkata, ‘Teristimewa empat bulan Haram, Allah menjadikannya sebagai bulan haram (mulia) dan mengagungkan kemuliaannya, serta menjadikan dosa yang dilakukan di dalamnya sebagai dosa besar, dan amal saleh yang dilakukan di dalamnya mendapat pahala yang begitu besar.” (Ad-Dur Al-Mantsur, 187)

Kata Ibnu Rajab, tidak ada dalil shahih mengenai shalat khusus dan puasa secara khusus pada bulan ini. Hanya saja ada hadits:
في الجنة قصر لصوام رجب
“Di surga ada istana untuk orang yang berpuasa di bulan Rajab.” Imam Baihaqi berkomentar bahwa hadits ini diriwayatkan oleh seorang pemuka Tabi’in bernama Abu Qilabah.

Adanya, adalah anjuran secara umum berpuasa pada bulan Haram, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

صم أشهر الحرم
“Berpuasalah pada bulan-bulan Haram (Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram).”

Generasi salaf yang biasa berpuasa pada bulan ini seperti Abdullah bin Umar, Hasan Al-Bashri, Abu Ishaq dan lain-lain.

Meski tidak hada hadits secara khusus tentang puasa sunnah pada bulan Rajab, di dalamnya masih banyak puasa sunnah yang bisa ditunaikan sebagai persiapan Ramadhan: Senin dan Kamis, Ayyamul Bidh (13,14,15), puasa Dawud.

Memasuki bulan Rajab, biasanya Rasulullah berdoa:

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

Allahumma Baarik Lana fii Rajab, wa sya’baan, Waballighna Ramadhaan
“Ya Allah! Berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami pada bulan Ramadhan.”

Ada beberapa metafor indah yang dibuat ulama terkait bulan ini: Abu Bakar Al-Warraq berkata, “Bulan Rajab adalah bulan untuk menanam, sedangkan Sya’ban untuk pengairan tanaman, sementara Ramadhan untuk mengetam tanaman.”

Tamtsil indah lain yang beliau buat mengenai bulan ini, “Perumpamaan bulan Rajab seperti angin, sedangkan Sya’ban bagaikan mendung, sementara Ramadhan laksan hujan.”

Sebagian yang lain membuat perumpamaan, “Tahun laksana pohon. Bulan Rajab adalah musim dedaunan tumbuh. Sya’ban cabang bertumbuh. Dan musim memetik buahnya adalah Ramadhan. Sedangkan pemetiknya adalah orang-orang beriman.” (Ibnu Rajab, Lathaa`iful-Ma’aarif, 121) (Aza)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here