Doa Rasulullah saat Madinah Tertimpa Wabah

Masjid Nabawi. Foto: gulf business

Dalam hadits yang lumayan panjang, ‘Aisyah menceritakan bahwa saat Rasulullah sampai ke Madinah, Abu Bakar dan Bilal bin Rabbah Radhiyallahu ‘anhuma mengalami sakit demam.

Menurut gambaran ‘Aisyah, waktu itu, setibanya di Madinah, kondisi wilayahnya paling banyak sekali wabah dan bencananya. Katanya, ada suatu lembah yang bernama Buththan mengalirkan air keruh yang mengandung kuman-kuman penyakit.

Bagaimana Abu Bakar dan Bilal menyikapi wabah demam ini? Kalau Abu Bakar, setiap kali merasakan demam, beliau menyenandungkan sya’ir. Demikian bait-baitnya:

كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِي أَهْلِهِ … وَالمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ
“Setiap orang pada pagi hari bersantai dengan keluarganya. Padahal kematian lebih dekat dari pada tali sandalnya.”

Lain halnya dengan Bilal, beliau melantunkan sya’ir setelah sembuh dari demam:

أَلاَ لَيْتَ شِعْرِي هَلْ أَبِيتَنَّ لَيْلَةً … بِوَادٍ وَحَوْلِي إِذْخِرٌ وَجَلِيلُ،
وَهَلْ أَرِدَنْ يَوْمًا مِيَاهَ مَجَنَّةٍ … وَهَلْ يَبْدُوَنْ لِي شَامَةٌ وَطَفِيلُ،
Wahai kiranya kesadaranku, dapatkah kiranya aku bermalam semalam.
Di sebuah lembah yang dikelilingi pohon idzkir dan jalil.
Apakah ada suatu hari nanti aku dapat mencapai air Majannah.
Dan apakah bukit Syamah dan Thufail akan tampak bagiku?”

Setelah itu, bilal berkata: “Ya Allah, laknatlah Syaibah bin Rabi’ah, ‘Uqbah bin Rabi’ah dan Umayyah bin Khalaf yang telah mengusir kami dari suatu negeri ke negeri yang penuh dengan wabah bencana ini.” Sebagai gambaran wajar yang ditunjukkan Bilal karena memang mereka terusir dari negerinya: Mekah.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here