Amal Paling Disukai: Ringan tapi Berkesinambungan

Ilustrasi.

Kadang karena terlalu semangat, seseorang melakukan amalan secara drastis. Semua amalan atau ibadah seolah mau dikerjakan semua. Salat tahajud setiap hari, salat rawatib tidak pernah putus, puasa Senin dan Kamis, sedekah dan amal saleh lainnya.

Semangat tersebut tentu sangat baik. Namun, jangan sampai kandas di tengah jalan. Hanya panas di awal-awal saja. Ibadah sunnah pada khususnya butuh pembiasaan dan tahapan. Jika dilakukan secara menggebu-gebu, membuat orang gampang futur (putus setelah semangat yang tinggi).

Oleh karena itu, dalam hadits riwayat Aisyah disebutkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ، قَالَ: «مَنْ هَذِهِ؟» قَالَتْ: فُلاَنَةُ، تَذْكُرُ مِنْ صَلاَتِهَا، قَالَ: «مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لاَ يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا» وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَادَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya dan bersamanya ada seorang wanita lain, lalu beliau bertanya: “Siapa ini?” Aisyah menjawab: “Si fulanah”, Lalu diceritakan tentang shalatnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tinggalkanlah apa yang tidak kalian sanggupi, demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian sendiri yang menjadi bosan, dan agama yang paling dicintai-Nya adalah apa yang senantiasa dikerjakan secara rutin dan kontinyu.” (HR. Bukhari)

Nabi mengingatkan kita beramal harus terukur. Maksudnya, sesuai dengan kemampuan, bukan hanya sebatas semangat. Sebab, sebarapa banyak pun amalan yang dilakukan, Allah pasti siap menerima. Tapi, apakah dia mampu untuk istikamah, padahal manusia rentan bosan dan Allah tidak akan bosan.

Dalam kasus yang lain beliau pernah menyinggung seseorang yang sebelumnya rajin shalat malam kemudian berhenti di tengah jalan. Beliau berkata kepada Abdullah bin Amru bin Ash:

يَا عَبْدَ اللَّهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti fulan, yang dia biasa mendirikan shalat malam namun kemudian meninggalkan shalat malam.” (HR. Bukhari)

Dari keterangan hadits ini, jelaslah bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah meski dikit tapi kontinu; walau ringan tapi berkesinambungan. Rahasianya ialah, keistikamahan. Sebab, untuk menjadi istikama hingga akhir hayat bukanlah perkara mudah. Terlebih, biasanya amal yang bisa didawami adalah yang bertahap dan dimulai dari yang ringan.

Perhatikan misalnya Bilal bin Abi Rabbah! Terompahnya sudah bisa didengar di surga padahal dia masih hidup. Rahasianya apa? Karena beliau mendawami atau istikamah mengamalkan amalan yang menurut banyak orang ringan yaitu, menjaga wudhu dan shalat setelahnya.

Jadi, hadits tadi memberi pelajaran penting bagi pembaca yang budiman bahwa dalam beramal perlu dimulai secara bertahap, paling ringan sehingga bisa dijalankan secara istikamah. Kelak kalau sudah istikamah, bisa ditambah dengan amal saleh lain untuk taqarrub kepada Allah. Yang tak kalah penting, orang yang mendawami amal meski ringan, mereka adalah termasuk orang yang dicintai oleh Allah SWT. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here