Bolehkah Hadiri Resepsi Pernikahan di Tengah Pandemi Covid-19?

Indonesiainside.id, Jakarta – Pemerintah telah mengeluarkan imbauan physical distancing (jaga jarak fisik) untuk mencegah penyebaran virus corona (covid-19) di Indonesia. Bahkan, sejumlah daerah menghentikan sementara kegiatan keagamaan untuk mencegah masyarakat berkumpul dalam jumlah banyak di satu tempat.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa bagi umat Islam yang tinggal di zona merah covid-19 untuk salat rumah saja. Termasuk mengganti salat jumat dengan zuhur.

Imbauan ini rupanya menciptakan dilema tersendiri di tengah masyarakat. Dalam banyak kasus, masyarakat merasa bingung ketika mendapat undangan pernikahan.

Jika yang mengundang adalah kerabat jauh dan di daerah berbeda, mungkin tidak menimbulkan dilematis, sebab ada alasan jarak. Lalu, bagaiama jika yang mengundang adalah tetangga atau keluarga dekat?

Pimpinan AQL Islamic Center, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), menjelaskan, hukum wajib menghadiri undangan pernikahan itu gugur di tengah situasi pandemik covid-19. Ia mengiaskan dengan fatwa MUI terkait penyelenggaraan ibadah dalam situasi terjadi wabah covid-19.

Dalam fatwa MUI Nomor 14  Tahun 2020 pada poin keenam disebutkan, “dalam kondisi penyebaran covid-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan salat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing. Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktivitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran covid-19, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.

UBN meminta agar masyarakat, khususnya umat Islam, untuk menyandarkan hukum mendatangi keramaian pada fatwa MUI tersebut. Sebab, tujuannya sama, yakni mencegah penyebaran covid-19.

“Tida ke masjid saja tidak dosa, apalagi resepsi. Caranya bagaimana? Jangan datang pas ramai, tapi amplop tetap sampai. Lakukan yang bisa dilakukan asal tetap menjaga jarak. Setelah itu, telpon dan sampaikan selamat, sampaikan bahwa kehadiran secara fisik tidak bisa, tapi kehadiran secara hati tetap ada, dan itu menambah rasa cinta kita semua,” ucap UBN.

Dia menegaskan, fatwa tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak menyampaikan sukacita kepada pasangan yang menikah. “Jangan sampai, sudah tidak hadir, tidak mengirim makanan, tidak ngasih amplop lagi. Ini namanya tidak menghargai tetangga, yang lebih bagus ada mendoakan saudara kita yang sedang resepsi itu,” tutur dia.

Hukum serupa berlaku pada takziah terhadap jenazah covid-19. Ia meminta agar jenazah yang meninggal karena infeksu virus yang mudah menyebar itu cukup dilakukan oleh ahli dari rumah sakiut rujukan. Ini karena dikhawatirkan virus yang berada di tubuh jenazah menular ke orang yang bertakziah. Langhkah itu sebagai salah satu bentuk antisipasi dan melindungi diri dari virus.

“Kalau anda bukan ahli, saya katakan salat berjamaah saja tidak. Salat jumat saja yang wajib, tidak. Bertakziah ini bisa kita lakukan dengan menelpon keluarga jenazah menyampaikan belasungkawa. Kita. Bisa lewat jarak jauh, kita bisa mengirimkan apa yang bisa kita bantu untuk saudara kita itu, jika memang kita khawatir terjangkit pandemi ini, apalagi kalau jenazahnya juga suspect atau positif Covid-19,” ucap UBN. (MSH)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here