Membentengi Diri dari Covid-19 dengan Al-Qur’an

al quran
ilustrasi

Oleh: KH Bactiar Nasir*

Di tengah pandemi Covid-19, kita sangat membutuhkan kekuatan di luar ikhtiar kita. Kita tidak tahu dan tidak mengerti kapan, di mana, dan dengan siapa, kita bersama ketika virus ini melekat pada diri kita.

Tetapi Allah Maha Tahu, Maha Melindungi, Allah punya malaikat dan Allah Yang Maha Menundukkan semua virus. Pertanyannya, apa bisa Al-Qur’an menjadi pelindung sekaligus penyembuh? Sangat bisa. Dalilnya ada banyak, misalnya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57)

Ayat ini dimulai dengan, “Hai manusia!”. Di sini yang diajak adalah seluru manusia, bukan orang beriman saja. Al-Qur’an sebagai pelindung, syifaa (obat) bisa berlaku bagi siapa saja. Bahkan, petunjuknya juga untuk semua manusia, hudan lin-naas, bisa menjadi hidaya untuk semua manusia untuk mendapat kebenaran sehingga keluar dari kejahiliaan, keluar dari kegelapan menuju caaya iman, ikhlas, islam bahkan sampai cahaya ihsan.

“Telah datang kepada kalian mauizhah,” sebuah petuah-petuah istimewa, sebuah perkataan yang membuat hati menjadi lembut. Sebuah perkataan yang membuat jiwa menjadi terenyuh karenanya. Petuah ini berisi tentang berita, larangan, bahkan juga peringatan.

Ini bukan sembarang petuah, yaitu “dari sisi Tuhanmu,” yang menciptakan, memberi  rezeki, mendidik dan memelihara kamu. Jadi ini bukan perkataan biasa. Sungguh ini petuah min Rabbikum, dari Tuhanmu yang sangat agung.

Di antara petuah ini, mengandung wa syifaa`un lima fish-shuduur, mengandung penyembuh, obat, penawar dari berbagai macam penyakit, racun, termasuk racun pemikiran dan keyakinan. Syifaa`un lima fish-shuduur, terutama yang ada dalam hati.

Para ulama sepakat bahwa sesungguhnya al-Qur’an bukan sekadar bisa menjadi syifaa`un (obat) penyembuh bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam qalbu manusia; tapi juga bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang bersifat fisik atau di badan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Murdawaih.

Ada seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dadanya sesak dan sakit. Kemudian Rasulullah memerintahkan kepada orang ini untuk membaca al-Qur’an al-Kariim dan tentang orang yang datang karena tenggorokannya sakit. Rasulullah perintahkan kepada orang ini untuk berobat dengan al-Qur’an al-Kariim.

Bahkan diriwayatkan bahwa sahabat merukyah seorang raja yang disengat oleh binatang berbisa sehingga keracunan lalu dibacakan al-Qur’an, Alhamdulillah dengan izin Allah kemudian racun itu ternetralkan dan sembuhlah orang ini atau raja ini dari serangan racun yang berbahaya.

Ingatlah bahwa Allah yang menurunkan penyakit, karenanya Allah pula yang bisa menurunkan obatnya. Dan pada tahap awal ini al-hamdulillah lewat program khatam selama 15 hari, 1 hari dua juz kita bisa berikhtiar dengan ikhtiar yang hebat memohon perlindungan Allah Ta’ala. Insya Allah al-Qur`an bisa menjadi syifaa secara non-fisik dan terutama fisik yang terserang penyakit akibat keyakinan yang lemah, kesedihan, rasa takut yang mendalam, sehingga menimbulkan berbagai penyakit fisik akibat kita terserang penyakit non-fisik secara psikis khususnya yang ada di dalam hati kita.

Al-hamdulillah pada surah Yunus ayat 57 digambarkan syifaa`ul lima fish-shuduur.Saya berkesimpulan, walaupun Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa al-Qur`an hanya bisa menyembuhkan penyakit yang ada di dalam qalbu, tapi sama-sama kita ketahui boleh jadi penyakit-penyakit yang ada di dalam qalbu, di dalam jantung bisa mengakibatkan penyakit fisik. Insya Allah penyakit fisik ini bisa sembuh.

Di luar pembicaraan ini semua, bahwa ketika kita membaca dan memperdengarkan al-Qur’an, lalu sel-sel darah, DNA kita kemudian mendapatkan informasi dalam bentuk suara dari ayat-ayat al-Qur’an, ini tentu akan memberikan proses metabolisme tubuh dengan sendirinya karena ayat-ayat al-Qur’an dengan semua optimismenya, pesan-pesan keyakinannya membuat sel-sel darah kita dalam tubuh kita melakukan sebuah proses positif di dalam diri kita sehingga terjadilah peringatan dalam tubuh kita.

Karenanya, kalau kita sering membaca al-Qura’an terutama ketika sering pada kesempatan saat berada di rumah insya Allah tidak bosan. Kita mendengar bahwa musik kasiatnya bisa mempengaruhi kesehatan tubuh. Tapi pastinya suara al-Qur’an kalau sering kita perdengarkan akan menjadi hebat. Apalagi sekarang di bulan Rajab. Ini adalah salah satu bulan yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Dalam rangka menhadapi bulan Sya’ban, kemudian Ramadan, ini sebagai persiapan ruhiah. Insya Allah  di dalam jiwa yang sehat akan ada badan yang sehat. Insya  Allah badan kita terlindungi dari serangan virus Covid-19. Kalaupun nanti kita sakit karenanya, yang penting kita sudah beriktiar. Kalaupun kita meninggal karenanya, insya Allah mati syahid.

الطاعون شهادة على كل مسلم

Penyakit pandemik ini, jika kita hadapi dengan ketakwaan, tawakal kepada Allah, dengan membaca al-Qur’an, insya Allah kalaupun kita mati, mati syahid.

Saudara-saudaraku yang sedang sakit, ayo bangkit! Mari membaca al-Qur’an! Saudara-saudaraku yang sedang ketakutan, ayo kita bentengi diri dengan khatam al-Qur’an. Saudara-saudaraku yang sedang bosan di rumah tidak tahu mau mengerjakan apa, jangan terlalu banyak pegang gadget. Kembali pada al-Qur’an, pegang tafsir, pegang tadabbur al-Qur’an.

Dengan bertadabbur al-Qur’an, saya setiap membuka halaman mana saja, selalu mendapatkan informasi yang baru.

{وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ} [البقرة: 151]

(QS. Al-Baqarah [2]: 151)

Di sini kita akan mendapatkan banyak hal, bahwa nanti kita ingin dibangkitkan oleh Allah dalam keadaan bersama orang-orang yang saleh dan dalam keadaan beriman. Dan dengan membaca al-Qur`an, itu akan terjadi pada kita. Informasi atau berita gembira itub akan terjadi pada kita.

Begitu juga dengan membaca al-Qur`an kita akan mendapatkan ilmu yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya. Tetapi lebih dari itu, waktu-waktu kita akan lebih berguna. Apalagi ketika ini kita lakukan bersama-sama. (Aza)

* Pimpinan AQL Islamic Center/ Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here