Hadits Puasa (1): Arab Badui Bertanya tentang Puasa

Ilustrasi. Foto: shutterstock

Dalam kitab “al-Jaami’ al-Musnad ash-Shahiih al-Mukhtashari min Umuuri Rasuulillah wa Sunanihi wa Ayyaamhi” atau yang biasa disingkat dengan istilah Shahih Bukhari, dikemukakan kisah interaktif antara Nabi dan seorang badui yang di dalamnya menyinggung masalah puasa.

Bersumber dari Thalhah nin Ubaidillah. Beliau meriwayatkan:

أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَائِرَ الرَّأْسِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ: «الصَّلَوَاتِ الخَمْسَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا» ، فَقَالَ: أَخْبِرْنِي مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الصِّيَامِ؟ فَقَالَ: «شَهْرَ رَمَضَانَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا» ، فَقَالَ: أَخْبِرْنِي بِمَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الزَّكَاةِ؟ فَقَالَ: فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ، قَالَ: وَالَّذِي أَكْرَمَكَ، لاَ أَتَطَوَّعُ شَيْئًا، وَلاَ أَنْقُصُ مِمَّا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ شَيْئًا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ، أَوْ دَخَلَ الجَنَّةَ إِنْ صَدَقَ»

“Telah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang dari penduduk Najed dalam keadaan kepalanya penuh debu dengan suaranya yang keras terdengar, namun tidak dapat dimengerti apa maksud yang diucapkannya, hingga mendekat (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) kemudian dia bertanya tentang Islam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Shalat lima kali dalam sehari semalam.” Kata orang itu: “Apakah ada lagi selainnya buatku.” Beliau menjawab: “Tidak ada kecuali yang tathawu’ (sunnah).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Dan puasa Ramadlan.” Orang itu bertanya lagi: “Apakah ada lagi selainnya buatku.” Beliau menjawab: “Tidak ada kecuali yang tathawu’ (sunnah).” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut: “Zakat.” Orang itu berkata: “Apakah ada lagi selainnya buatku.” Beliau menjawab: “Tidak ada kecuali yang tathawu’ (sunnah).” Thalhah bin ‘Ubaidullah berkata: Lalu orang itu pergi sambil berkata: “Demi Allah, aku tidak akan menambah atau menguranginya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia akan beruntung jika jujur menepatinya.”

Hadits ini kata Ibnu Al-Baththal dalam “Syarh Shahih Bukhari” sebagai hujjah (argumentasi) mengenai kewajiban-kewajiban dalam Islam. Yang disinggung dalam hadits ini di antaranya adalah masalah puasa. Yang wajib adalah Ramadhan, dan sisanya adalah sunnah.

Laki-laki Badui dalam hadits ini berasal dari Nejed. Namanya, Dhimam bin Tsa’labah dari kabilah Sa’ad bin Bakar. Menanyakan banyak hal kepada Rasulullah mengenai shalat, puasa zakat dan syariat Islam secara umum.

Terkhusus tentang puasa, hadits ini mengandung beberapa pelajaran. Pertama, puasa yang diwajibkan satu bulan penuh Ramadhan. Sedangkan yang lain adalah sunnah (Sebagai contoh Senin dan Kamis, Daud dan semacamnya).

Hadits ini dipungkasi dengan statemen menarik dari Nabi bahwa bila orang berkomitmen menjalankannya dan sesuai dengan perilakunya, maka akan menjadi orang yang beruntung.

Jadi, ketika muslim bersungguh-sungguh menjalankan puasa –baik itu sunnah maupun wajib—maka ia akan menjadi bagian dari orang-orang yang beruntung. Semoga, kita termasuk di dalamnya. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here