Sayyidah Nafisah: Ingin Wafat dalam Kondisi Berpuasa

Ilustrasi. Foto: iSTOCK.

Figur yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah putri Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau tumbuh berkembang di Madinah Munawarah dalam iklim ilmu yang sangat kuat dan dikelilingi oleh banyak orang saleh. Tak mengherankan, sejak usia 6 tahun sudah secara rutin atau terbiasa menunaikan shalat wajib.

Satu hal yang perlu dicatat dari sosok beliau adalah keinginan kuatnya agar diwafatkan oleh Allah dalam kondisi berpuasa. Allah Maha Kuasa untuk meluluskan keinginan hamba-Nya. Dan jalan Nafisah diberi kemudahan untuk menggapainya.

Al-Kisah, saat ajalnya kian dekat, diawali dengan sakit yang mendera, dia mulai menggali kuburan sendiri untuk mempersiapkan kematian yang kapan saja bisa menjemputnya. Dan lokasi kuburan itu berada di dalam rumahnya sendiri. Tak jarang pada banyak kesempata beliau masuk ke dalamnya bermuhasabah dan membaca al-Qur`an.

Menurut keterangan al-Ahjuri Sayyidah Nafisah dalam kuburan yang dipersiapkannya untuk menyambut kematiannya itu sudah katam 6.000 kali. Suatu usaha serius dalam mempersiapkan diri ketika ajal telah tiba.

Pada pertengahan Ramadhan (208 H), sakitnya bertambah parah dan beliau dalam kondisi berpuasa. Banyak orang yang menyarankannya untuk membatalkan puasa. Namun, beliau bersikukuh untuk melanjutkannya. Sebab, di antara cita-cita luhurnya adalah mati dalam kondisi berpuasa.

Terkait hal ini beliau berkomentar, “Aneh! Selama 30 tahun aku meminta kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan berpuasa. Bagaimana mungkin aku sekarang berbuka?” Sebuah kata-kata tegas dan menunjukkan kebulatan tekad.

Beliau melanjutkan puasanya sembari membaca al-Qur`an. Ketika bacaannya sudah sampai pada surah Al-An’am ayat 127 berikut:

لَهُمْ دَارُ السَّلاَمِ عِندَ رَبِّهِمْ وَهُوَ وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Bagi mereka (disediakan) darussalam (syurga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.” Beliau tiba-tiba mengucapkan kalimat syahadat, dan akhirnya cita-citanya untuk meninggal dalam kondisi berpuasa bisa terwujud. Sebuah akhir manis bagi mereka yang sungguh-sungguh dalam memperjuangkan cita-citanya.

Petikan kisah ini dinukil dari buku “198 Kisah Haji Wali-wali Allah” karya Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny. Kisah ini bisa menjadi teladan bagi semua muslim, khususnya bagi para wanita yang ingin husnul-khatimah seperti dirinya. Sudahkah terpikirkan dalam kondisi apa kelak Allah mewafatkan kita? (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here