Penetapan Awal Ramadhan

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Dalam buku “al-Fiqhu al-Manhajy ‘ala Madzhab Imaam asy-Syafi’i” (77, 78) disebutkan ada dua cara dalam menetapkan awal bulan Ramadhan.

Pertama, dengan ru’yah hilal. Yaitu melihat hilal Ramadhan pada tanggal 30 Sya’ban. Jika ada yang menyaksikan dan orangnya adil di depan hakim, maka diterima kesaksiannya.

Kedua, dengan menggenapkan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Ini dilakukan ketika susah melihat hilal karena awan atau mendung, atau tidak ditemukan saksi yang adil ketika melihatnya. Maka dalam kondisi demikian, Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari.

Dalil dari dua cara ini adalah sabda Nabi:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

“Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya pula. Apabila kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah jumlah bilangan hari bulan Sya’ban menjadi tiga puluh.” (HR. Bukhari, Muslim).
Selain dua cara itu, di Indonesia ada juga yang menggunakan cara hitungan hisab atau ilmu falak. Misalnya, dalam tulisan ini akan dikemukakan pendapat Jamaah Pengajian Surabaya asuhan KH. Abdullah Sattar Majid Iljas.

Salah satu yang dijadikan dalil adalah hadits berikut:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا» يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ، وَمَرَّةً ثَلاَثِينَ

“Sesungguhnya kami ini satu ummat yang bodoh, kami tidak tahu menulis dan tidak bisa menghitung. Bulan itu sekian dan sekian, yaitu sebulan 29 hari dan bulan lain 30 hari.” (HR. Bukhari)

Dalam Siaran Berkala –anggitan Yai Sattar—ditulis keterangan, “Dengan jelas, tegas dan benar hadits ini Rasulullah SAW. menyatakan belum mengertinya sahabat-sahabatnya atau kaum dan rakyatnya tentang ilmu Hisab atau Falaq (menghitung). Kalau umpamanya mereka sudah bisa menghisab atau menghitung, pasti Rasulullah saw. tidak akan memakai cara yang menunjukkan mereka belum mengerti itu.”

Dalil lain yang pernah penulis dengar adalah dari al-Qur`an, yang bunyinya demikian:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak . Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Yunus [10]: 5). Di sini disebut istilah hisab untuk mengetahui jumlah tahun, yang perkembangannya sekarang ada ilmu hisab atau falak.

Adapun ayat:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barangsiapa yang menyaksikan (hilal) bulan (Ramadhan), maka berpuasalah!” (QS. Al-Baqarah [2]: 185) Diberi catatan bahwa menyasikan tidak harus selalu dengan mata kepala fisik. Bisa juga maksudnya di sini dengan ilmu. Buktinya, ketika kita bersyahadat, apakah itu berarti kita menyaksikan Allah dan Nabi dengan mata kepala sendiri? Kita bersaksi dengan ilmu dan keyakinan.

Ditambah lagi –menurut golongan ini– kalau apa-apa mesti langsung dilihat dengan mata kepala, mengapa dalam shalat lima waktu menggunakan hitungan hisab? Tidak melihat langsung saja seperti pada zaman Nabi setiap kali mau shalat?

Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, yang jelas keduanya sepakat bahwa puasa dilakukan pada 1 Ramadhan. Adapun perbedaan ini bisa menjad kekayaan khazanah pemikiran Islam dalam merespon perkembangan ilmu pengetahuan. Adapun pembaca, bisa memilih mana yang paling mantap diyakini setelah mengetahui argumen masing-masing pihak. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here