Shalat Tarawih pada Masa Pandemi

shalat jumat
Masjid Agung Istiqlal, Jakarta Pusat dipenuhi jamaah untuk shalat tarawih. Foto: Suandri Ansah/Indonesiainside.id

Kata “Taraawih” bentuk plural dari “Tarwiihah” yang berasal dari kata “ar-Raahah” artinya istirahat (santai). Mengapa shalat Tarawih secara berjamaah pada malam Ramadhan dinamakan demikian?

Karena, dulu saat mereka melaksanakan shalat malam secara berjamaah di bulan Ramadhan, mereka terbiasa istirahat tiap kali usai salam pada rakaat kedua. Keterangan ini bisa dibaca dalam “Fath al-Baary” (2007: 4/293) karya Ibnu Hajar Al-Asqalany.

Sedangkan dalam kitab “Syarh Abu Dawud” (V/298) karya Al-‘Ainy, disebutkan pula makna yang melengkapi. Tulis beliau, “(Shalat ini) dinamakan Tarawih karena orang memanjangkan shalat malamnya, kemudian menghistirahatkan (menyandarkan) pada salah satu dari kedua kakinya.”

Di antara dalil syari’at shalat Tarawih adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah berikut:

أَنَّ النَّبِيَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ، فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ، قَالَ: «قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ، إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ» وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat di dalam masjid, kemudian orang-orang turut mengikuti shalat beliau, kemudian beliau mengerjakan lagi di malam berikutnya, ternyata orang-orang yang mengikuti shalat beliau semakin banyak, Dan di malam ketiga, ketika orang-orang telah berkumpul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak kunjung keluar. Keesokan harinya, beliau bersabda: “Aku telah mengetahui apa yang kalian perbuat semalam, dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangiku keluar menemui kalian, hanya saja aku khawatir jika shalat tersebut akan diwajibkan atas kalian.” Kejadian itu terjadi pada bulan Ramadhan.” (HR. Abu Dawud, Ahmad)

Dalil ini menunjukkan bahwa shalat Tarawih secara berjamaah hukumnya sunnah karena Nabi pernah melaksanakannya bersama sahabat dan pernah juga meninggalkannya karena khawatir diwajibkan kepada umatnya.

Oleh karena itu, berdasarkan hadits ini jelaslah bahwa hukum shalat ini adalah sunnah. Bisa dikerjakan di masjid atau di rumah.

Bagaimana shalat Tarawih dilaksanakan di musim pandemi seperti saat ini? Jika shalat Jum’at saja yang statusnya wajib bisa dikerjakan di rumah ketika ada uzur, apalagi shalat Tarawih yang hukumnya sunnah. Perhatikan hadits berikut:

Ibnu ‘Abbas berkata kepada Mu’adzinnya saat hari turun hujan: “Jika kamu sudah mengucapkan ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH, janganlah kamu sambung dengan HAYYA ‘ALASH SHALAAH (Marilah mendirikan shalat). Tapi serukanlah SHALLUU FII BUYUUTIKUM (Shalatlah di rumah-rumah kalian).” Lalu orang-orang seakan mengingkarinya. Maka Ibnu ‘Abbas pun berkata: “Sesungguhnya hal yang demikian ini pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku. Sesungguhnya shalat Jum’at adalah kewajiban dan aku tidak suka untuk mengeluarkan kalian, sehingga kalian berjalan di tanah yang penuh dengan air dan lumpur. (HR. Bukhari)

Jadi, shalat Tarawih pada masa pandemi global bisa dilakukan di rumah. Bisa sendiri-sendiri atau berjamaah dengan keluarga. Insya Allah jika diniatkan dengan tulus ikhlas karena Allah, akan mendapat pahala Tarawih seper pada Ramadhan yang normal kondisinya. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here