Ramadhan: Bulan Kesabaran

Ilustrasi.

Ramadhan dengan segenap amal di dalamnya tidak bisa dilepas dari akhlak luhur: kesabaran. Mengapa demikian? Berikut ini akan dijelaskan alasan-alasannya disertai dengan dalilnya.

Sebelum itu, penulis akan terlebih dahulu mengemukakan defenisi kesabaran. Makna sabar secara bahasa adalah menahan diri. Sedangkan menurut istilah, Syekh Al-Jurjany mendefinisikan:
تَرْكُ الشَّكْوَى مِنْ أَلَمِ الْبَلْوَى لِغَيْرِ اللهِ لَا إِلَى اللهِ

“Meninggalkan keluhan akibat rasa sakit karena ujian kepada selain Allah, bukan kepada Allah.” (at-Ta’riifaat, 131).
Adapun macam-macamnya, Syekh As-Sa’dy menyebutkan ada tiga:

Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan. Kedua, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Ketiga, sabar atas takdir Allah yang menyakitkan dan tidak menggerutu karenanya. (Taisiir al-Kariim ar-Rahmaan, 51).

Sekarang kita kembali kepada Ramadhan. Ramadhan bulan kesabaran karena di dalamnya diajarkan pengendalian diri dengan seluas-luasnya. Ketika kita berpuasa, itu adalah bentuk menahan diri dari lapar, haus dan syahwat dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Selain itu, Ramadhan yang penuh dengan amal ketaatan, membutuhkan kesabaran yang tinggi. Bukankah ketaatan membutuhkan kesabaran, sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh As-Sa’dy tadi? Shalat Tarawih misalnya, kalau tidak memiliki kesabaran, mana mungkin orang sanggup melaksanakan shalat minimal 11 rakaat, bahkan ada yang 21 rakaat?

Kesabaran yang terkandung dalam Ramadhan bukan saja dalam hal menahan diri dari hal fisik, tapi juga yang terkait dengan pengendalian diri dari maksiat dan syahwat. Makanya, ketika berpuasa, seseorang disuruh menahan emosi, saat ada yang mengajaknya berkelahi atau mengejeknya.

Demikian juga, dalam berpuasa di bulan Ramadhan, kita diajarkan diri untuk mengendalikan lisan dari perkataan kotor dan perbuatan bodoh. Ini juga memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Nabi bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ

“Puasa adalah perisai, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah: ‘aku sedang shaum‘ beliau mengulang ucapannya dua kali.” (HR. Bukhari)

Bersedekah juga butuh kesabaran. Sebab, pada dasarnya karakter manusia itu berat dan sulit untuk mengeluarkan hartanya. Ketika ia bisa mengontrol jiwanya dengan penuh kesabaran untuk tetap berbagi, maka dia sukses dalam menjalankan kesabaran di bulan Ramadhan.

Begitu juga iktikaf di sepuluh hari terakhir. Berdiam diri di masjid selama itu, sangatlah berat bagi orang yang bisa hidup di tengah keramaian dan kehidupan duniawi. Ia harus diam dalam kesunyian untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Lagi-lagi, ini juga membutuhkan kesabaran.

Demikian juga membaca al-Qur`an, tidak bisa dilepaskan dari kesabaran. Orang mungkin bisa berjam-jam di kafe atau tempat-tempat umum, tapi seberapa kuat dan sabar dalam membaca al-Qur`an? Jadi, Ramadhan memang adalah bulan kesabaran.

Suatu hari Al-Bahily datang menjumpai Rasulullah dengan kondisi fisik yang cukup memprihatinkan daripada kedatangannya pada tahun sebelumnya. Rupanya, dia terus-terusan berpuasa, dan hanya makan ketika malam. Maka, Rasulullah pun memberi nasihat:

صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ

“Berpuasalah pada hari kesabaran (Ramadhan).” (HR. Abu Dawud)

Dalam hadits ini berliau memberikan nasihat kepadanya agar tidak menyiksa diri, dan memberi hak kepada badannya. Dari keterangan hadits Nabi tersebut, jelaslah bahwa bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran. Dan yang akan sukses menjalankan ibadah di bulan ini adalah yang memiliki kesabaran berlipat. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here