Aisyah Istri Sang Rasul

Ilustrasi. Foto: iSTOCK.

Istri Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang satu ini mewarnai kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di antara istri-istri beliau, Aisyah Radhiyallahu Anhumaa adalah yang terbanyak merawikan hadits. Berikut adalah keistimewaan Aisyah dan tipe membangun rumah tangga harmonis yang dicntohkan oleh Sang Rasul.

Asiyah Radhiyallahu Anhumaa putri dari Abu Bakar ash-Shiddik dengan Ummu Ruman. Sejak kecil Aisyah Radhiyallahu Anhumaa dikenal akan kecerdasannya, fasih dalam berbicara, dan juga kebenariannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahi Aisyah Radhiyallahu Anhumaa ketika usianya baru 6 tahun, di Mekkah. Tetapi, ketika usia 9 tahun (waktu itu ia sudah baligh) pasca hijrah ke Madinah, Sang Rasul baru menggaulinya.

Dikisahkan, pasca wafatnya Sayyidah Khadîjah Radhiyallahu ‘Anha, Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam bermimpi, sebagaimana hadits yag diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu Anhumaa, “Kamu diperlihatkan kepadaku dalam mimpi selama tiga malam. Seorang malaikat datang membawamu kepadaku dengan tutup sepotong sutera.” Malaikat itu berkata, ‘Inilah isterimu!’ Kemudian aku buka cadar wajahmu dan ternyata ia adalah kamu. Akupun berkata, ‘Jika mimpi ini berasal dan Allah, niscaya Dia akan mewujudkannya.” (HR Imam Bukhari: 3895 dan Muslim: 6436)

Aisyah Radhiyallahu Anhumaa masih punya usia cukup panjang pasca wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh sebab itu, ia menjadi rujukan bagi para ulama hadits. Beliau juga banyak mengetahui tentang asbabun nuzul turunnya sebuat ayat. Demikian pula tentang asbabun wurud sebuah hadits. Tidak kurang dari seperempat dari hukum syariat, adab, dan kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berasal dan diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu Anhumaa.

Ada hal yang menarik bahwa Hisyam bin Urwah pernah bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu Anhumaa, “Wahai Ibunda, saya tidak heran dengan dalamnya pemahaman agama yang engkau miliki. Hal itu karena engkau adalah isteri Rasulullah dan putri Abu Bakar ash-Siddiq. Saya juga tidak heran jika engkau memahami dengan baik tentang syair dan seluk beluk masyarakat Arab, karena engkau adalah putri Abu Bakar yang tinggi ilmunya itu. Yang membuat aku heran adalah ketinggian ilmu Ibunda dalam hal pengobatan. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Aisyah Radhiyallahu Anhumaa menjawab, ‘Wahai Abu Arabah. Di akhir hayatnya Rasulullah menderita sakit. Tabib-tabib dari berbagai kabilah Arab datang untuk mendiagnosa dan memberi obat. Dari situ saya mendapat ilmu mendiaonosa penyakit dan membuat obat-obatan’.”

Di dalam rumah tangga Rasulullah Sahallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama Aisyah Radhiyallahu Anhuma, ada beberapa hal yang mesti diketahui oleh umat Islam, yakni:

Pertama, istri menyiapkan makan-minum untuk suaminya.

Kedua, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan kepada para istri agar menyempatkan diri menyisir rambut suaminya.

Ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan para suami agar membiasakan mencium wajah dan tangan istrinya. Begitu pula sebaliknya.

Keempat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
menganjurkan kepada para suami agar menyempatkan diri menemani istri mengurus pekerjaan rumah tangga. Seperti memasak di dapur, nyapu dan ngepel lantai rumah, serta mencuci pakaian.

Kelima, suami-istri makan berdua dengan satu piring dan minum dengan satu gelas. Kisahnya, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baru masuk rumah, Aisyah hendak mengambilkan segelas minuman. Tetapi Rasulullah menegahnya. Beliau lalu mengambil gelas yang berisi air yang separuhnya sudah dimininum oleh Aisyah, lalu beliau minum di bekas bibir istrinya tersebut.

Keenam, memanggil istrinya dengan sebutan yang menyenangkan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanggil Aisyah dengan “Yaa Humaira” (yang berwajah putih kemerah-merahan).

Itulah enam hal yang dianjurkan oleh Baginda Rasul dalam rangka menjaga keharmonisan antar suami-istri. (HMJ)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here