Hadits Ramadhan (4): Keringanan bagi yang Safar di Bulan Suci

Tidak semua bus yang ada menjadwalkan keberangkatan mudik dari Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Foto: Muhammad Zubeir/Indonesiainside.id

Jabir bin Abdullah radliallahu ‘anhuma bercerita bahwa pada tahun Fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Makkah, yakni tepatnya pada bulan Ramadhan.

Ketika itu, beliau berpuasa hingga sampai di Kura’ Al-Ghamim, dan para sahabat pun ikut berpuasa. Kemudian beliau meminta segayung air, lalu beliau mengangkatnya hingga terlihat oleh para sahabat kemudian beliau meminumnya.

Kemudian, dilaporkan kepada beliau, “Sesungguhnya sebahagian sahabat ada yang terus berpuasa.” Maka beliau bersabda:

أُولَئِكَ الْعُصَاةُ، أُولَئِكَ الْعُصَاةُ

“Mereka adalah orang-orang yang bermaksiat (kepadaku), mereka adalah orang-orang yang bermaksiat (kepadaku).” (HR. Muslim)
Mengapa Nabi membatalkan puasa dan agak keras bicaranya ketik masih ada yang masih berpuasa? Ibnu Baththal (Syarh Shahiih al-Bukhaary, IV/89) menjelaskan: “Nabi membatalkan puasanya supaya dilihat dan diikuti oleh para sahabatnya. Karena, saat itu puasa membuat berat dan membahayakan mereka.

Karena itulah beliau kasihan kepada mereka dan mengambil keringanan untuk mereka sebagaimana firman Allah berikut:

يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Imam An-Nawawi dalam “Syarh Shahih al-Muslim” (VII/232) menjelaskan bahwa kata “mereka telah bermaksiat” disebut dua kali kemungkinan ditujukan kepada orang yang kondisinya mengkhawatirkan atau membahayakan jika terus berpuasa. Jadi, ketika puasa tidak membahayakan, maka orang yang tetap berpuasa bukanlah sedang bermaksiat.

Makna ini didukung dengan keterangan hadits lain:

إِنَّ النَّاسَ قَدْ شَقَّ عَلَيْهِمِ الصِّيَامُ، وَإِنَّمَا يَنْظُرُونَ فِيمَا فَعَلْتَ، فَدَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Sesungguhnya orang-orang keberatan karena berpuasa dan mereka melihat apa yang akan tuan perbuat, lantas beliau meminta sekantong air setelah ashar kemudian meminumnya dengan disaksikan oleh seluruh shahabat.” (HR. Muslim)

Imam Ash-Shan’any menjelaskan dalam kitab “Subul as-Salam” (I/ 574) bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran:

Pertama, secara umum musafir boleh memilih ketika dalam safar: mau terus berpuasa atau membatalkannya. Artinya, ini adalah keringan bagi orang yang bepergian.

Kedua, sedangkan orang yang berat bahkan membahayakan ketika tetap berpuasa, maka masuk hadits ini:

لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ

“Bukan termasuk kebajikan orang yang berpuasa ketika safar.” (HR. Ibnu Hibban).
Ketiga, orang yang tetap berpuasa karena tidak membahayakan, maka tidak disebut sebagai orang yang bermaksiat. Sebagaimana hadits berikut:

وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصُومَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ

“sedangkan orang yang lebih suka untuk berpuasa, maka tidak ada dosa atasnya.” (HR. Muslim) (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here