Ramadhan dan Tradisi Pemasangan Lampu di Masjid

Ilustrasi sejumlah warga melewati gerbang berhiaskan lampu untuk memeriahkan bulan suci ramadhan. Foto: Antara

Pada masa Dinasti Abbasiyah, tepatnya pada masa Khalifah Ma’mun Al-Rasyid (786-833 M), beliau memberi mandat kepada skretaris atau juru tulis Ahmad bin Yusuf untuk segera mencatat pesan penting yang perlu dilakukan pada bulan Ramadhan.

Dalam buku “Natsr ad-Durr fi al-Muhaadharaat” (V/65) karya Mansur bin Husain Ar-Razi mengisahkan kisah ini dengan cukup singkat. Tulisnya, suatu hari Khalifah Ma’mun memerintahkan Ahmad bin Yusuf untuk menulis di segala penjuru wiayah agar memasang lampu-lampu di seluruh masjid pada saat bulan Ramadhan.

Ahmad bin Yusuf menceritakan, “Lantas aku ambil kertas untuk memenuhi permintaan khalifah. Namun, waktu itu perintah itu masih belum jelas bagiku, kemudian aku lama berpikir sampai aku dikuasai rasa kantuk yang sangat berat.” Mungkin Ahmad sedang memikirkan diksi apa yang digunakan untuk menerjemahkan perintah khalifah.

Dalam kondisi demikian, tiba-tiba diperintahkan kepada Ali, “Sudah. Tulis saja : Sesungguhnya, dengan banyaknya lampu bisa menjadi penerang bagi orang-orang yang sedang melaksakan tahajud, membuat nyaman bagi orang yang sedang berjalan di jalan, menepis keraguan yang tersembunyi dalam jiwa serta untuk mensucikan rumah-rumah Allah (masjid) dari sunyinya kegelapan.”

Jadi, kalau pembaca melihat budaya gemerlap aneka lampu di masjid-masjid saat Ramadhan, salah satu sumber kebudayaannya berasal dari masa Khalifah Ma’mun. Sekarang, hiasan lampu sudah berkembang pesat. Bukan saja di masjid, kadang di jalan-jalan umum, di taman dan sebagainya dihiasi dengan lampu-lampu cantik sehingga menarik pandang ketika malam hari. Itu semua untuk menyambut dan memeriahkan bulan Ramadhan.

Menurut penulis sendiri, budaya ini baik-baik saja selama tidak masuk dalam kategori berlebihan dan tidak kehilangan subtansi. Maksudnya, jika ini dilakukan secara wajar untuk menyambut Ramadhan sebagai rasa syukur sebagaimana antusias Nabi dan para sahabat dalam menyambut Ramadhan, itu tidak masalah.
Di samping itu, jangan sampai kehilangan subtansi dari nilai-nilai Ramadhan. Sebab, Ramadhan sendiri adalah bulan pengendalian diri. Bukan bulan gebyar, pelampiasan dan pemenuhan hasrat. Subtansi bulan Ramadhan –sebagaimana ibadah puasa– lebih cendrung pada kesunyian.

Banyak orang yang berpuasa atau beribadah di bulan Ramadhan kemudian tidak mendapatkan apa-apa karena sudah kehilangan subtansi. Misalnya, sebagaimana yang digambarkan oleh hadits berikut:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahalanya selain lapar, dan berapa banyak orang yang shalat malam tidak mendapatkan selain begadang.” (HR. Ibnu Majah). Ya. Puasa di bulan Ramadhan akan tidak bernilai jika kita kehilangan subtansi.

Lain halnya jika budaya pemasangan lampu justru membuat ibadah semangat, lebih cinta dan antusias dalam amal kebajikan. Maka, hal ini malah terpuji dan malah dekat dengan subtansi nilai bulan Ramadhan. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here