30 Hari Bersama Rasulullah (9): Mengisi Kekosongan Jiwa Khadijah RA

Rasulullah SAW menikah di usia belia, yaitu umur 25 tahun. Beliau menikah dengan seorang wanita luar biasa, Khadijah binti Khuwailid Athahirah. Wanita suci di zaman jahiliyah.

Menurut riwayat yang lebih kuat, Khadijah binti Khuwailid saat itu berusia 28 tahun. Pernikahan ini bukan pernikahan biasa, bukan didorong oleh motif yang biasa.

Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita kaya raya yang tentu saja telah mendapatkan segala yang diinginkan oleh setiap manusia. Dari kehormatan, penghargaan, kekayaan, dan hingga kesohoran.

Akan tetapi, ada satu titik, satu bagian dari diri dan jiwanya yang masih kosong. Khadijah merindukan kekuatan spiritual yang tidak bisa didapatkan oleh laki-laki sembarangan di masa jahiliyah.

Kemudian yang didapatinya adalah Rasulullah SAW. Dialah orang yang dikenal begitu dekat setelah membawa dagangan Khadijah. Lebih dekat lagi, Khadijah mengenal. Lalu semakin dekat, Khadijah punya cita-cita terbesar dalam hidupnya mendapatkan seorang pendamping yang bisa mengisi kekosongan jiwanya.

Maka pernikahan itupun terjadi. Di mana Rasulullah SAW yang saat itu seorang yang serba kekurangan. Kemudian menikah dengan Khadijah yang kaya raya. Ketiadaan harta di sisi Rasulullah SAW bukan soal bagi Khadijah karena permasalahan Ummul Mukminin itu bukan masalah materi dan kekayaan.

Yang dimiliki oleh Rasulullah SAW adalah kekayaan jiwa, spiritual. Itulah yang menjadi kekosongan Khadijah. Maka pernikahan yang menjadi kepentingan luar biasa itu dimulai dari keserasian.

Saling mengisi dan saling menutupi kekurangan, di mana Rasulullah SAW memiliki kelebihan yang merupakan kekurangan Khadijah dan sebaliknya Khadijah memiliki kelebihan yang merupakan kekurangan Rasulullah SAW.

Pernikahan yang mengantarkan mereka kepada keberkahan yang luar biasa sampai akhir hayatnya. (Aza/Muhajir)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here