Inkonsisten dan Gaduh, Ciri Kepemimpinan Ruwaibidhah

Pemimpin
Ilustrasi

Ketika orang-orang yang kurang kompeten memimpin negeri, maka akan terjadi kegaduhan demi kegaduhan. Kepemimpinan Ruwaibidhah?

Lima belas abad yang lalu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan sinyal kepada umat Islam bahwa nanti, suatu saat, akan terjadi orang yang tidak kapabel menduduki jabatan publik. Hal tersebut bisa kita lihat dari sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dan Imam Ahmad, dinarasikan oleh Abu Hurairah, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh kebohongan, saat itu pendusta dibenarkan, orang yang benar justru didustakan, pengkhianat diberikan amanah, orang yang dipercaya malah dikhianati, dan Ar-Ruwaibidhah berbicara. Sahabat bertanya: Apakah Ar-Ruwaibidhah? Beliau bersabda: Seorang laki-laki yang bodoh (Ar Rajul at-Taafih) yang mengurusi urusan orang banyak/publik.”

Inilah petunjuk kenabian yang futuristik tentang masa depan umat manusia. Kebodohan, kebohongan, keculasan, pemutarbalikan fakta dan data begitu masif. Seorang bodoh dijadikan pemimpin, lalu di remote dari belakang. Untuk menutupi kebodohannya itu, ia dicitrakan sebagai seorang yang sederhana, pro-rakyat, dan karena itu harus keluar masuk gang kancil, gang tikus, masuk ke gorong-gorong, bagi-bagi duit kepada masyarakat yang menyapanya di pinggir jalan, dan seterusnya dan seterusnya. Pencitraan dinomorsatukan untuk menutupi prestasi yang tak kunjung diukir.

Sebagian masyarakat terpesona, sekaligus terkagum-kagum. Yang bodoh dibuat seakan-akan pintar, yang pintar dibuat bodoh, yang benar dibuat salah, yang salah dibenarkan. Ulama diundang ke istana, diajak makan siang, pulang mengeluarkan pernyataan bahwa si Anu itu baik, perhatian pada rakyat, dan seterusnya.

Ulama yang baik adalah mereka yang menghindar datang ke istana. Justru umara yang mendatangi ulama untuk mendengar nasihat dan menyerap ilmunya. Jika pun seorang ulama terpaksa harus mendatangi istana, dia mesti memberi nasihat kepada si tuan rumah. Ketika pulang ia mesti tegas dan berani menolak pemberian dari si tuan rumah. Dengan begitu para ulama akan berwibawa di mata umara, dan nasihatnya akan di dengar.

Kapankah jaman itu terjadi? Tanda-tanda itu sudah terlihat. Lihatlah betapa banyak orang yang menyewa konsultan politik demi pencitraan dirinya untuk maju sebagai pemimpin, baik sebagai walikota, bupati, gubernur, bahkan presiden. Juga para calon anggota dewan dan dewan perwakilan daerah.

Apa yang dilakukan oleh konsultan politik tersebut? Yang bodoh dibuat seakan-akan pintar, yang busuk diharum-harumkan namanya, yang korup dicitrakan sukses membangun, yang preman dibuat seakan-akan wakil wong cilik dan memperjuangkan nasib rakyat.

Produk dari kepemimpinan polesan konsultan politik itu akan teruji ketika wilayah atau negeri mendapat musibah, dan karenanya perlu diambil suatu kebijakan untuk melindungi rakyat. Kepemimpinan yang kuat adalah ketika kebijakan yang diambil dijalankan secara konsisten dan pro-rakyat. Adapun kepemimpinan Ruwaibidhah adalah kepemimpinan yang inkonsisten dan menyebabkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat.

Efek dari kepemimpinan yang dipegang oleh para Ruwaibidhah ini akan menyebabkan gonjang-ganjing politik, ekonomi rakyat melemah, daya beli menurun, lapangan kerja diserbu oleh tenaga kerja asing, para pejabat hidup mewah, hutang negara terus membumbung.

Oleh sebab itu, tetaplah waspada. Jika masa itu menghampiri, laksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, karena itulah risalah kenabian, dan berjalan di jalur istikomah. Semoga Allah membersamai kita. Wallahu A’lam. (HMJ)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here