Tangisan Tulus Pemimpin Teladan

pemimpin
ilustrasi.

Suatu hari, Amirul Mu`minin, Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah sedang berpikir tentang urusan rakyatnya.

Tiba-tiba, ia teringat tanggung jawab yang banyak yang wajib dia tunaikan untuk memenuhi hak manusia yang berada di bawa kekuasaannya.

Tak terasa, matanya berkaca-kaca. Ia kemudian nangis tersedu-sedu. Saat sang istri (Fathimah binti Abdul Malik) masuk melihat suami dalam kondisi seperti itu, agak kaget.

Suaminya sedang meletakkan kedua tangannya di pipi, sementara itu air matanya berlinang. Sang istri pun sangat khawatir terjadi apa-apa pada suaminya.

“Wahai Amirul Mu`minin, suamiku tercinta, ada apa gerangan?” tanya Fathimah.

“Sayang, aku sedang mengemban urusan umat Muhammad SAW, lalu aku memikirkan orang yang lapar, orang sakit terlantar, orang telanjang karena kesusahan, orang terzalimi dan tertindas, orang asing yang ditawan, orang tua dan yang punya keluarga di berbagai penjuru bumi. Aku sadar bahwa Tuhan akan meminta pertanggung jawabanku atas mereka. Kelak masalah ini akan diperkarakan di akhirat. Nah, saat itu aku khawatir argumentasiku tidak kuat dalam perkara ini, kemudian aku mengasihani diri lalu menangis.”

Sebagai seorang pemimpin, Amirul Mu`minin sangat takut jika menyia-nyiakan hak dari umat Muhammad SAW atau tak sanggup dalam menunaikan kewajiban yang diamanahkan kepadanya; sehingga di akhirat, pada hari perhitungan akan diperiksa dengan sangat ketat urusan rakyat, lalu beliau menangis karena kasihan kepada dirinya sendiri dan sayang pada umatnya.” (Musthafa Ahmad Ali, Qashash fii ar-Rahmah, 15).

Apa yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu bentuk instrospeksi diri agar tidak menjadi pemimpin yang zalim. Beliau berusaha maksimal agar hak-hak rakyatnya terpenuhi. Dan memang terbukti, dalam waktu dua tahun lebih kepemimimpinannya rakyat hidup dalam kondisi adil dan sejahtera. Bahkan kabarnya, waktu itu susah dalam mencari orang yang diberi sedekah.

Meski sudah menjalankan keadilan seperti itu, kerja-kerjanya sudah nyata untuk rakyat, namun masih saja khawatir kalau ada hak yang disia-siakan sehingga memberatkannya dalam perhitungan akhirat.

Demikianlah contoh pemimpin sejati. Yang dipikirkan terlebih dahulu bukanlah kenyamanan diri, tapi bagaimana kebutuhan rakyat bisa terpenuhi. Yang menjadi pusat perhatian adalah hak-hak rakyat yang harus ditunaikan, bukan menumpuk kekayaan atas nama jabatan.

Umar bin Abdul Aziz, tidak mau masuk dalam kategori hadits ini. Nabi bersabda:

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنَ المُسْلِمِينَ، فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ، إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ

“Tidaklah seorang pemimpin memimpin masyarakat muslimin, lantas dia meninggal dalam keadaan menipu mereka, selain Allah mengharamkan surge baginya.” (HR. Bukhari) (Aza)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here