Doa Tamu untuk Tuan Rumah

ilustrasi berdoa
Ilustrasi berdoa. Foto: shutterstock

Dalam Islam, menyambut dan memuliakan tamu merupakan salah satu indikator keimanan seseorang kepada Allah dan Hari Akhir.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya.” (HR. Bukhari).
Ternyata, tamu pun juga dianjurkan untuk memberikan hal positif kepada tuan ruma. Salah satu yang diajarkan nabi adalah berdoa untuknya. Perhatikan riwayat berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ، قَالَ: نَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي فَقَرَّبْنَا إِلَيْهِ طَعَامًا فَأَكَلَهُ، ثُمَّ أُتِيَ بِتَمْرٍ فَكَانَ يَأْكُلُ وَيُلْقِي النَّوَى بِإِصْبَعَيْهِ جَمَعَ السَّبَّابَةَ وَالوُسْطَى – قَالَ شُعْبَةُ: وَهُوَ ظَنِّي فِيهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَأَلْقَى النَّوَى بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ – ثُمَّ أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرِبَهُ، ثُمَّ نَاوَلَهُ الَّذِي عَنْ يَمِينِهِ، قَالَ: فَقَالَ أَبِي وَأَخَذَ بِلِجَامِ دَابَّتِهِ ادْعُ لَنَا، فَقَالَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيمَا رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ»

Bersumber dari Abdullah bin Busr ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi ayahku, kemudian kami menyuguhkan makanan untuk beliau. Beliau pun makan sebagian darinya, kemudian beliau diberi kurma, dan beliau makan serta membuang bijinya menggunakan dua jari beliau. Abdullah bin Busr menggabungkan jari telunjuk dan jari tengah.

Syu’bah berkata: dan itu yang aku yakini insya Allah. Dan beliau membuang biji kurma di antara kedua jarinya. Kemudian beliau diberi minum, lalu beliau meminumnya kemudian memberikan kepada orang yang ada di samping kanannya.

Abdullah bin Busr berkata: ayahku dalam keadaan memegang kendali hewan kendaraannya berkata: doakan untuk kami! Kemudian beliau berdoa:

“ALLAAHUMMA BAARIK LAHUM FIIMAA RAZAQTAHUM WAGHFIR LAHUM WARHAMHUM.”

(Ya Allah, berkahilah mereka pada rizki yang telah engkau berikan kepada mereka, dan ampunilah dosa mereka, serta kasihilah merekah.” (HR. Tirmidzi).

Jadi, salah satu timbal balik positif bagi seorang tamu adalah mendoakan tuan rumah agar diberkahi rezekinya, diampuni dosanya dan diberi rahmat oleh Allah Ta’ala.

Dalam kitab “Minhaaj al-Muslim”, Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jaza`iri menjelaskan pulah bahwa menjadi tamu harus menjaga etika-etika seperti ketawaduaan, tidak menginap melebihi tiga hari, tidak menatap terlalu lama sehingga tidak meresahkan, tidak datang tiba-tiba sehingga membuat tuan rumah tidak siap, dan semacamnya.

Itu artinya antara keduanya ada timbal balik positif, Saling memberi manfaat, saling berendah hati, dan mejauhkan diri dari hal-hal yang bisa merugikan dan membahaykan.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here