Puasa Syawal: “Gerbang Istikamah Puasa” di Luar Ramadhan

Ilustrasi puasa.

Banyak ulama yang menyebut bahwa Ramadhan adalah madrasah atau sekolah untuk menempa seseorang agar menjadi insan yang bertakwa.

Oleh karena itu, penempaan itu akan terlihat hasilnya ketika amal-amalan di bulan Ramadhan bisa tetap berkesinamungan di luar Ramadhan. Kita ambil contoh misalnya puasa.

Selesai puasa Ramadhan bukan berarti kita cuti puasa hingga setahun sampai bertemu Ramadhan lagi. Tapi di sana ada aneka puasa sunnah yang bisa diamalkan untuk menjaga kesinambungannya.

Misalnya, selesai Ramadhan –tepatnya mulai tanggal 2 Syawal, ada syariat puasa Syawal selama enam hari. Nabi bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa yang berpuasa Ramadlan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa sepanjang masa.” (HR. Muslim).
Senada dengan riwayat Muslim, Tirmidzi juga meriwayatkan:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadlan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka hal itu sama dengan puasa setahun penuh.”

Sungguh besar keistimewaan puasa ini. Orang yang seusai Ramadhan berpuasa, kemudian dilanjut dengan enam Syawal, maka dinilai seperti berpuasa sepanjang masa.

Sedangkan cara untuk melaksanakannya –menurut ulama fikih—boleh dilakukan secara berturut-turut sejak tanggal dua hingga tujuh Syawal atau mengerjakan enam puasa secara terpisah tapi tetap dalam bulan Syawal.

Selesai Syawal, masih ada puasa harian (seperti puasa Dawud); kemudian puasa mingguan (seperti puasa Senin dan Kamis); lalu bulanan (seperti puasa Ayyamul Bidh: 13, 14 dan 15 Hijriah). Ada juga yang sesuai dengan momentum, seperti puasa Tasu’ah (9 Muharram), Asyura (10 Muharram), ‘Arafah (9 Dzul Hijjah) dan lain-lain.

Ini menunjukkan bahwa amalan puasa perlu dijaga kesinambungannya. Dan ini sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا، وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling dawam (berkesinambungan atau istikamah) meskipun itu sedikit.” (HR. Bukhari, Muslim).

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga amal selama puasa untuk diteruskan di bulan-bulan berikutnya. Ada ulama yang berkata, “Jadilah hamba yang beribadah orientasinya adalah Allah, bukan karena Ramadhan itu sendiri.” (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here