Hasan Ath-Thusi: Menggapai Husnul Khatimah pada Bulan Ramadhan

Ilustrasi.

Hasan bin Ali bin Ishaq Ath-Thusi adalah Perdana Mentri kenamaan pada era Nizamul Mulk, Qawamuddin.

Beliau lahir pada tahun 408 H.Sejak kecil dididik ayahnya hingga hafal al-Qur`an dan mendalami fikih madzhab Syafi’i.

Imam Adz-Dzahabi dalam kitab “Siyar A’lam an-Nubala” (19/94-95) menulis secara singkat profil beliau.

Beliau adalah orang cerdas, ahli siasat, berpengalaman, taat beragama, suka memakmurkan majelis ilmu dengan para fakir dan ulama fikih.

Beliau adalah orang yang saleh dan takwa. Suka berkumpul dengan orang-orang saleh, dan sangat mendengarkan nasihat-nasihat mereka. Beliau sangat suka jika ada orang yang menunjukkan aib atau kesalahannya. Kemudian segera mengevaluasi diri dan menangis.

Akhir hidupnya beliau mendapa husnul khatimah di bulan Ramadhan. Waktu itu ia dibunuh dalam kondisi berpuasa di bulan Ramadhan oleh orang syi’ah bathiniah yang menyamar menjadi shufi.

Dalam sebuah majelis itu, hati beliau ditikam dengan pisau. Orang-orang yang mengetahui itu, langsung pergi ke arahnya dan membunuh pelakunya. Peristiwa ini terjadi pada malam Jum’at tahun 485 H di daerah dekat Nahawand.

Meski beliau dibunuh secara zalim, beliau tidak memiliki dendam, malah ucapan terakhir yang keluar dari lisannya adalah, “Kalian jangan membunuh pembunuhku, aku sudah memaafkannya. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah, melainkan Allah Ta’ala,” kemudian ia gugur dalam kondisi berpuasa.

Pembaca yang budiman! Di detik akhir Ramadhan ini, kita perlu bertanya: apakah kita akan mendapatkan husnul khatimah (akhir yang baik) atau sebaliknya?

Jika kita diberikan kesempatan hidup hingga Ramadhan tahun depan, maka itu kesempatan besar untuk mewujudkan husnul khatimah. Alangkah indahnya jika Allah mencabut nyawa kita ketika dalam kondisi beribadah atau berjuang di jalan Allah.

Kita tidak pernah tahu siapa di antara kita yang husnul khatimah di bulan Ramadhan. Yang jelas –Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaa`if al-Ma’aarif– memberikan indikator, yaitu: orang yang secara istiqamah mengamalkan kebaikan yang sudah dijalankan di bulan Ramadhan. Dan itu tetap dilakukan hingga bersua Ramadhan kembali, itulah puncak takwa.

Dalam hadits berikut terdapat beberapa amalan yang bisa mengantarkan pada husnul khatimah:

خَمْسٌ مَنْ عَمِلَهُنَّ فِي يَوْمٍ كَتَبَهُ اللَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ: مَنْ عَادَ مَرِيضًا، وَشَهِدَ جَنَازَةً، وَصَامَ يوما، وراح يوم الجمعة، وأعتق رقبة

“Ada lima (perkara) barangsiapa yang mengamalkannya dalam satu hari, maka Allah akan mencatatnya sebagai penghuni surga: (1) Orang yang menjenguk yang sakit (2) Menghadiri jenazah (3) Puasa pada suatu hari (4) Pergi untuk shalat Jum’at (5) Membebaskan budak.” (HR. Ibnu Hibban).

Dalam hadits ini, salah satu amal yang bisa mengantar menuju husnul khatimah adalah puasa. Semoga puasa selama bulan Ramadhan diterima dan bisa dilanjutkan dengan puasa sunnah pada bulan-bulan berikutnya, sehingga kita layak mendapatkan husnul khatimah. Sebagaimana Hasan Ath-Thusi. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here