Pasar, Dibenci Allah, Diramaikan Manusia

Suasana di Pasar Klender, Jakarta Timur. Foto: M Aulia Rahman/Indonesiainside.id

Di era Covid-19 yang sudah berjalan 2 bulan lebih ini, masjid-masjid jadi sepi dan sunyi; sementara pasar-pasar tetap ramai. Bagaimana umat Islam mensikapinya?

Para Nabi dan Rasul yang diturunkan oleh Allah, untuk menghidupi diri dan keluarganya, semuanya bekerja dengan tangannya sendiri. Ada yang berdagang, tukang kayu, pandai besi, penggembala domba, dan sebagainya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah seorang pedagang, begitu pula dengan para sahabat, rata-rata sebagai pedagang yang keluar masuk pasar.

Dalam Al-Qur’an surah Al-Furqon ayat 20, Allah berfirman, “Kami tidak mengutus sebelummu para rasul, melainkan sesungguhnya mereka sungguh memakan makanan (seperti kalian) dan berjalan di pasar…”

Ayat tersebut diatas nunjukkan bahwa para Nabi itu hidup normal, sebagaimana manusia pada umumnya. Mereka makan dan minum seperti biasa, dan berniaga di pasar. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah seorang pedagang. Melalui perniagaan ini ia dipertemukan dengan Ibunda Khadijah binti Khuwailid, seorang juragan dan pedagang sukses.

Tetapi, di sisi lain, Rasulullah pernah menyebut tentang tempat yang paling disukai Allah Ta’ala dan tempat yang paling dibenci oleh-Nya. Dinarsika oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, “Negeri (tempat) yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dimurkai Allah adalah pasar-pasarnya,” (HR. Imam Muslim).

Imam An-Nawawi, dalam Syarah Shahih Muslim, memberi ulasan. Menurutnya, “Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid” karena masjid merupakan tempat ketaatan, dan didirikan atas dasar ketakwaan. Sedangkan “Tempat yang paling Allah benci adalah pasar” karena di pasar tempat tipu-daya, riba, janji-janji palsu, dan berbagai aktifitas yang mengabaikan perintah Allah.

Dengan demikian, masjid itu masjid sebagai tempat yang mulia karena perilaku orang-orang di dalamnya yang mendekat kepada Allah; sedangkan pasar tidak disukai Allah karena perbuatan-perbuatan manusia di dalamnya.

Di dalam salah satu hadits, seorang Sahabat pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, mata pencaharian apa yang paling baik?” Beliau menjawab, “Adalah pekerjaannya seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Imam Ahmad)

Karena itu, kita boleh berlama-lama di dalam Masjid dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala; sebaliknya, jangan berlama-lama di pasar. Jika sudah mendapatkan keperluan yang dibutuhkan di pasar, segeralah beranjak meninggalkannya, agar tidk jatuh pada perbuatan yang mubadzir yang dibenci Allah Ta’ala. Wallahu A’lam. (HMJ)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here