Jagalah 5 Perkara ini, Sebelum Datang 5 yang Lain!

Masa muda
Ilusrasi.

Suatu saat, Ibnu Abbas Radhaiyallahu ‘anhu mendapat nasihat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada lima perkara yang disampaikan kepada sepupunya ini:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan dengan baik lima perkara sebelum (datangnya) 5 perkara: (1) Masa mudamu sebelum (datang) masa tua (2) Masa sehatmu, sebelum (datang) masa sakit (3) Masa mampumu sebelum datang masa fakir (4) Masa luangmu, sebelum datang masa sibuk (5) Masa hidupmu sebelum (datang) kematian.” (HR. Hakim).

Masa muda, kesehatan, kekayaan (kemampuan), keluangan dan kehidupan adalah aset yang sangat mahal. Bila tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, maka akan menjadi orang ruga. Bukan saja di dunia, tapi juga di akhirat.

Bagi yang masa mudanya disia-siakan, tidak digunakan dengan baik untuk kepentingan masa depan, maka di masa tuanya dia akan merana. Dengan mengabaikan waktu potensial ini, sama saja dia sedang merancang kehancuran masa tua.

Demikian juga kesehatan. Nabi pernah bersabda, “Ada dua nikmat yang seringkali membuat orang terlena, yaitu: nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.” (Bukhari).

Nikmat ini jika tidak dimanfaatkan akan berakibat buruk.

Orang yang diberi anugerah kekayaan dan kemampuan sudah syogianya mensyukuri nikmat itu dengan bersedekah, meningkatkan kepedulian dan solidaritas sosial. Namun tak banyak yang lulus dengan ujian kekayaan, sebab watak manusia menurut penurutan al-Qur`an: jika ditimpa kesulitan berkeluh kesah, jika sedang diuji kenikmatan, kebaikan, kekayaan tiba-tiba ia menjadi kikir alias tak peduli dengan orang lain. Baru dia bisa menikmati nikmat kaya, ketika dia sudah menjadi fakir.

Masa luang juga sering diabaikan kebanyakan manusia. Dalam al-Qur`an sebenarnya ada nasihat penting, mengenai waktu kosong atau istirahat. Tidak ada istilah waktu kosong, karena: “Jika kamu sudah selesai melakukan suatu amal, maka bersungguh-sungguhlah untuk melakukan amal yang lain.” Jadi, istirahat sejati adalah berpindah dari amal baik yang satu menuju amal baik yang lain. Inilah orang yang cerdas memanfaatkan waktu luangnya.

Hidup juga demikian, banyak sekali yang abai dengan nikmat ini. Padahal setiap orang pasti mengalami mati, tapi orang selagi hidup lebih banyak menyiapkan sesuatu yang tak bakal dibawa mati. Nabi pernah menasihati, “Cukuplah kematian menjadi penasihat (terbaik).” Pada kesempatan lain, “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (alias kematian).”

Orang yang memanfaatkan hidupnya dengan baik, maka kematian menjadi kesadarannya sehingga dia tidak kehilangan arah. Karena dia sadar bakal mati, maka yang dilakukan adalah mempersiapkan diri kala hidup dengan berbagai amalan yang memudahkan dia dalam menjemput kematian.

Bila 5 aset berharga ini dimanfaatkan dengan baik, maka sangat besar peluang untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Saat tua tidak akan menyesal, karena sudah siap sejak muda; kalau sakit tidak putus asa, karena ketika sehat sudah dimanfaatkan sebaik-baiknya; jika miskin dia tidak sedih, karena saat kaya sudah banyak berdera untuk kepedulian sosial; ketika sibuk, dia tidak akan sedih, karena kesibukannya sudah terarah untuk kepentingan yang bermanfaat; dan kala meninggal dunia, dia bisa tersenyum lega, sebab bekal amal menuju akhirat sudah disiapkan sedemikian rupa saat masih hidup di dunia. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here