Ahli Maksiat Masuk Surga, Ahli Ibadah Masuk Neraka

Seorang Muslim berdoa seusai membaca Al Quran. Foto: Antara

Seseorang masuk surga bukan karena amalan baik dan ibadah yang dilakukannya. Ahli maksiat pun bisa masuk surga. Kok bisa?

Dalam sebuah hadits sahih yang dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dan Ahmad, dinarasikan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada dua orang laki-laki berudara dari Bani Israel. Seorang dari mereka adalah ahli maksiat, sedangkan yang satunya lagi ahli ibadah. Si ahli ibadah selalu memperhatikan perilaku maksiat dari saudaranya, lalu menasihati saudaranya, “Berhentilah dari berbuat maksiat yang mendulang dosa.”

Pada suatu hari, saudaranya yang ahli ibadah itu memergoki saudaranya melakukan kemaksiatan, lalu menasihatinya, “Berhentilah dari berbuat maksiat yang berbuah dosa.”

“Biarkanlah aku bersama Rabb-ku, apakah engkau diutus untuk selalu mengawasiku?” tanya saudaranya yang ahli maksiat itu.

Saudaranya yang ahli ibadah tersebut lalu berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam surga.”

Singkat ceritera, nyawa keduanya dicabut oleh Allah Ta’ala, sehingga mereka berkumpul di sisi Rabb.

Saat itulah Allah Ta’ala bertanya kepada ahli ibadah, Apakah kamu lebih tahu dari-Ku? Apakah kamu mampu melakukan apa yang ada dalam kekuasaan-Ku?”

Lalu Allah Ta’ala berkata kepada ahli maksiat, “Pergilah dan masuklah ke dalam surga dengan Rahmat-Ku.”

Sejurus kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat, bawalah ia (ahli ibadah, itu) ke neraka.”

Moral ceritera diatas punya nilai yang sangat dalam. Pertama, Banyak orang bisa melihat sebutir debu di mata orang lain, tetapi tidak bisa melihat sebatang pohon yang ada di matanya sendiri. Begitu banyak orang yang sibuk mengurusi dan membicarakan aib orang lain, tetapi lupa terhadap aibnya sendiri. Lupa akan aibnya sendiri membuat pelakunya tidak kunjung memperbaiki diri sendiri.

Kedua, seseorang masuk surga itu bukan karena amalanya atau ibadahnya, bukan karena ilmunya, bukan karena kekayaannya, bukan pula karena keturunannya. Seseorang masuk surga itu semata-mata karena Rahmat-Nya. Karena itu semua ibadah yang dilakukan seseorang hendaknya bertujuan untuk mendapatlan Rahmat-Nya. Wallahu A’lam (HMJ)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here