Anak Durhaka Mempolisikan Ibunya

Ilustrasi. Foto: istimewa

Di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, seorang anak melaporkan ibunya yang dituduh telah mengambil sepeda motor miliknya. Polisi tidak memprosesnya.

Hanya gara-gara si ibu memgambil sepeda motor yang dibeli dari hasil menjual tanah peninggalan mendiang suaminya, Ibu Kalsum, warga Desa Ranggagata, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat itu dilaporkan oleh anaknya, Mahsun, ke polisi. Beruntung, Kasatreskrim Polres Lombok, AKP Priyo, menolak laporan tersebut, dan menasihati si anak durhaka itu.

Menurut Ibu Kalsum, sepeda motor yang diambilnya itu adalah dari penjualan tanah hasil jerih payah bersama mendiang suaminya. Tanah dijual seharga Rp 200 juta, dibelikan sepeda motor seharga Rp 15 juta, sisanya dikuasai oleh Mahsun, tak jelas dipakai untuk apa. Maka, ketika sepeda motor tersebut diambil Kalsum, ia dilaporkan ke polisi oleh Mahsun.

Bagaimana status harta anak menurut hukum Islam? Mari kita ikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dinarasikan oleh ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata bahwa ada seseorang mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta dan anak. Namun orang tuaku membutuhkan hartaku. Rasulullah kemudian menjawab:

أَنْتَ وَمَالُكَ لِوَالِدِكَ إِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ أَطْيَبِ كَسْبِكُمْ فَكُلُوا مِنْ كَسْبِ أَوْلاَدِكُمْ

“Engkau dan hartamu milik orang tuamu. Sesungguhnya anak-anakmu adalah sebaik-baik hasil usahamu. Makanlah dari hasil usaha anak-anakmu.” (HR. Imam Abu Daud: 3530 dan Imam Ahmad, 2: 214).

Ibunda Aisyah menarasikan, , Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya anak-anak kalian adalah pemberian Allah kepada kalian sebagaimana firman Allah: ‘Dia memberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki anak perempuan dan Dia memberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki anak laki-laki.’ (QS. Asy-Syura: 49). Oleh karena itu, mereka dan harta mereka adalah hak kalian jika kalian membutuhkannya.” (Shahih, Silsilah Shahihah: 2564).

Oleh sebab itu, adalah kedurhakaan yang luar biasa jika sebagian harta peninggalan suami yang berupa sepeda motor, diambil si ibu, lalu si anak melaporkan ibunya ke polisi dan akan memenjarakan ibunya sendiri. Perbuatan tersebut sudah masuk ranah menista ibu kandung sendiri. Ibu yang mestinya dihormati, dirawat, dan disayang, malah dinista.

Mari kita ajari anak-anak kita dengan adab kepada orangtua, termasuk hak-hak orangtua terhadap harta anak-anaknya. Wallahu A’lam (HMJ)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here