Lurus dan Rapatkan Shaf, Tetap Berjabat Tangan

Sholat subuh berjamaah di masjid. Foto: Anadolu

Di era Covid-19 ini, menjaga jarak adalah salah satu protokol kesehatan. Lurus dan rapatkan shaf adalah protokol dalam melaksanakan shalat berjamaah. Bagaimana umat Islam mesti mensikapinya?

“Rapikan shaf sesuai anjuran panitia.” Kalimat itu meluncur dari imam shalat Jum’at di sebuah masjid di wilayah Cimanggis, kota Depok, Jawa Barat, Jum’at (3/7) siang. Kosa kata yang tidak lazim di dengar jamaah ketika seorang imam hendak memulai shalat berjamaah. Umumnya kita mendengar, “Lurus dan rapatkan shaf. “ kata “Lurus dan rapatkan” absen dikemukakan oleh si imam karena jamaah, sesuai dengan ketentuan dari pengurus DKM, shafnya tidak lurus (zig-zag) ke belakang dan renggang 1 meter antar jamaah. Kata “rapi”, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia punya arti, antara lain, “teratur baik; tertib.”

Apa yang terjadi di masjid tersebut, juga terjadi di masjid-masjid di berbagai wilayah di Indonesia. Mengapa tidak lurus dan rapat? Karena ini mengikuti protokol kesehatan yang katanya World Health Organization (WHO), salah satu badan PBB yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional dan bermarkas di Jenewa, Swiss.

Di era Pandemi Covid-19 ini, WHO mengeluarkan aturan standar bahwa seseorang hendaknya memakai masker, jaga jarak, sering-sering cuci tangan pakai sabun atau hand sanitiser. Inilah protokol kesehatan yang berlaku di seluruh dunia dan di berbagai tempat, termasuk di tmpat-tempat ibadah seperti di dalam masjid.

Perlu dipahami, dalam shalat berjamaah, meluruskan dan merapatkan shaf berdasarkan hadits:

وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – :
(( سَوُّوا صُفُوفَكُمْ ؛ فَإنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .
وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِي : (( فَإنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إقَامَةِ الصَّلاَةِ )) .

Anas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat.” (HR. Imam Bukhari: 723 dan Imam Muslim: 433). Imam Bukhari menyebutkan bahwa, “Lurusnya shaf termasuk mendirikan shalat.” Jika tidak lurus sama saja dengan tidak mendirikan shalat.

Dalam hal meluruskan shaf, jumhur ulama (mayoritas) berpandangan bahwa hukum meluruskan shaf adalah sunnah. Sedangkan Ibnu Hazm, Imam Bukhari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Asy-Syaukani berpandangan bahwa meluruskan shaf itu wajib. Hal ini didasarkan atas hadits yang dinarasikan oleh An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian atau jika tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” (HR. Imam Bukhari: 717 dan Imam Muslim: 436). Imam Nawawi, dalam syarah Shahih Muslim, menulis, “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.”

Adapun merapatkan shaf, menurut Imam Bukhari, Imam Ibnu Hajar, dan Imam Ibnu Taimiyah, hukumnya juga wajib. Bahkan, Imam Bukhari, di dalam Kitab Shahihnya, menulis bab khusus tentang “Itsmi Man Lam Yutimma Ash Shufuf” (Berdosa bagi orang yang tidak menyempurnakan shaf). Merapatkan shaf, menurut Imam Bukhari, adalah wajib, sebab hanya perbuatan wajib yang jika ditinggalkan akan melahirkan dosa.

Berjabat Tangan

Di dalam ajaran Islam, menggugurkan dosa antar sesama, bisa melalui saling berjabat tangan. Sahabat Anas bin Malik pernah ditanya oleh Qatadah:

أَكَانَتِ الْمُصَافَحَةُ فِى أَصْحَابِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ نَعَمْ

“Apakah berjabat tangan dilakukan di tengah-tengah sahabat Nabi shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?” Anas menjawab, “Iya.” (HR. Imam Bukhari: 6263).

Lalu, apa pahala yang didapat dengan berjabat tangan? Dinarasikan oleh Al Bara’ bin ‘Azib, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

“Tidaklah dua muslim itu bertemu lalu berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah.” (HR. Imam Abu Daud: 5212, Imam Ibnu Majah: 3703, dan Imam At-Tirmidzi: 2727)

Di masa Pandemi Covid-19, hanya orang-orang yang sehat yang sebaiknya tetap melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Jika kurang enak badan, bahkan sakit, seyogyanya shalat di rumah. Ketika hendak masuk masjid, mereka juga mesti mengikuti protokol kesehatan, seperti mencuci tangan, diukur suhunya, dan memakai masker.

Tetapi, ketika melaksanakan shalat, sempurnakanlah protokol yang telah dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Artinya, tetap meluruskan dan merapatkan shaf. Bukankah yang hadir di dalam shalat berjamaah itu adalah mereka yang sehat?

Lalu, jika kita bertemu dengan sesama orang beriman, hendaknya bersalaman. Takut Covid-19 karena bersentuhan? Bersalaman itu menggugurkan dosa-dosa, setelah itu cuci tangan pakai sabun atau hand sanitiser untuk menggugurkan Covid-19. Mudah bukan?

Dengan tetap mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, in-syaa Allah akan turun keberkahan, dalam bentuknya, antara lain, kesehatan kita dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu A’lam (HMJ)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here