Jangan Biarkan Pahala Sedekahmu Sirna Tak Berbekas

Ilustrasi sedekah. Foto: Istimewa

Sedekah yang dikeluarkan oleh seseorang akan diganti dengan balasan yang berlipat-lipat, bahkan tak terhingga. Syaratnya: ikhlas tanpa batas. Bagaimana jika penyedekah mengungkit-ungkit pemberiannya?

Sedekah itu amalan mulia, dan mendapat ganti yang juga sangat mulia, sebagaimana dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir berisi seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Sedekah itu ibarat sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, masing-masing bulir berisi seratus biji. Pahala sedekah itu berupa kebaikan yang kita terima. Pahala kebaikan itu tidak harus atau mesti dalam bentuk rupiah. Tapi bisa jadi berupa ketentraman, kenyamanan, kesehatan, anak-anak yang shalih-shalihah, dan kebahagiaan dalam hidup ini. Orang yang bersedekah itu menjadikan hartanya berkah. Adapun berkah itu berupa “terkumpulnya semua kebaikan bagi kehidupan seseorang”. Dan, keberkahan tak bisa diukur secara matematis, tapi bisa dirasakan secara spiritual.

Oleh sebab itu, jika bersedekah dengan tangan kanan, tangan kiri jangan sampai tahu. Bagaimana jika penyedekah mengungkit-ngungkit pemberiannya? Coba kita simak ayat 264 dalam surah Al-Baqarah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

Menyebut-nyebut pemberian itu bisa menjadi sebab orang yang diberi menjadi sakit hati. Perbuatan riya’ dan sum’ah itu menjadikan ama-amal mereka bagaikan batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat yang menyebabkannya bersih dan licin kembali. Batu itu kembali gersang, tak bisa menumbuhkan pepohonan atau benih. Sebuah perumpaan yang begitu indah dipaparkan oleh Sang Maha Pencipta, bahwa amal-amal yang dilakukan dengan iringan riya’ dan sum’ah, akan sia-sia belaka. Tak ada pahala baginya, bahkan dosa yang diterimanya, kelak.

Oleh sebab itu, mari kita perbaiki semua amalan kita, termasuk sedekah di dalamnya, agar tidak menjadi tekor dibuatnya. Wallahu A’lam (HMJ)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here