Kisah Nabi Nuh Membangun Peradaban

Ilustrasi. Foto: istimewa

Selama 5 abad melaksanakan risalah kenabiannya, Nuh Alaihis Salam hanya mendapatkan 80 orang pengikut. Seorang putranya, Kan’an, bahkan menolak mengikuti risalah yang diawa ayahnya. Tsunami menghancurkan segalanya. Hanya Nuh Alaihis Salam dan pengikutnya yang ada di dalam peraru yang selamat. Peradaban baru berdasakan tauhid kembali dibangun.

Nabi Nuh Alaihis Salam berdakwah di daerah Armenia, sebuah wilayah Eropa-Asia yang berbatasan dengan Turki (barat), Georgia (utara), Azerbaijan (timur), dan Iran (Selatan). Nuh adalah keturunan ke-9 dari Nabi Adam Alaisihis Salam dan keturunan ke-3 dari Nabi Idris Alaihis Salam. Bebarapa abad setelah Nabi Idris Alaihis Salam wafat, kaumnya mulai meninggalkan ajaran tauhid. Untuk iulah Nuh diutus memperbaiki tauhid kaumnya, Bani Rasib.

Menurut Ibnu Katsir, para ulama berbeda pendapat tentang usia berapa Nuh Alaihis Salam menerima risalah kenabian. Ibnu Jarir, sebagaimana dikutip Ibnu Katsir, mengatakan bahwa Nuh menerima risalah ketika usianya 50 tahun; ada yang menyatakan 350 tahun; dan 480 tahun. Nuh, juga dikabarkan berdakwh selama 5 abad. Sebelum Nuh menyampaikan ridalah kenabiannya, kaumnya menyembah berhala dengan nama-nama yang familiar karena dinisbatkan dengan nama-nama keluarga dan kerabat. Kaum Nabi Nuh, sebagaimana lazimnya strata sosial, ada golongan kaya, menengah, dan kaum dhuafa/lemah, baik secara ekonomi maupun secara sosial.

Tetapi, sepanjang dakwahnya yang 5 abad itu, Nuh Alaihis Salam hanya mendapat tidak lebih dari 80 pengikut setianya. Mereka umumnya kaum dhuafa, sementara kaum berpunya dan ningrat, tidak hirau dengan ajakan Nuh. Bahkan, kaum berpunya dan cerdik-pandai selalu menafikan ajakan Nuh.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here