Dua Remaja Australia Bikin Motor Berbahan Bakar Jelantah di Bali

Motor berbahan bakar jelantah atau minyak goreng bekas. Foto: istimewa

Indonesiainside.id, Jakarta – Dua remaja asal Australia selama lima tahun membantu membuat bahan bakar biofuel untuk bus sekolah di Bali. Mereka juga membuat sepeda motor berbahan bakar minyak goreng bekas (jelantah) yang disebut-sebut yang pertama di Indonesia.

Britt Koens (15 tahun) dan saudaranya Marein (17), bersekolah di sekolah internasional The Green School di Bali. Sekolah ini menerapkan kurikulum yang unik.

Dua bersaudara ini pindah ke sekolah itu dari Pulau Curacao di Karibia pada tahun 2014. Saat itu ayah mereka memulai pekerjaan baru di negara tetangga Timor Leste.

Mengutip ABC News, Senin(4/11) selama liburan keluarga mereka di Kimberley, Australia Barat, mereka menjelaskan pihak sekolah telah mengikutkan mereka dalam proyek unik: merakit, memelihara, dan menciptakan bahan bakar biodiesel untuk bus sekolah.

“Bagi anak-anak seperti kami, mempelajari hal seperti itu sangat menyenangkan,” kata Britt.

“Pilihannya banyak. Ada yang ikut pembelajaran berbasis proyek yang lebih sulit. Kami pun punya pilihan sendiri,” jelas Marein.

Ide Bus Sekolah Biodiesel bertujuan menciptakan moda transportasi yang berkelanjutan untuk antar-jemout staf dan siswa Green School setiap hari.

Dalam lima tahun sejak dimulai, mereka sekarang merawat enam bus sekolah, seluruhnya menggunakan bahan bakar minyak goreng bekas. “Ada anggota kelompok kami yang mendapat julukan ‘The Grease Police’, karena tugas kami pergi mengumpulkan minyak dari restoran,” kata Britt.

“Kami mendapatkan 300-an liter minyak goreng bekas sekitar setiap minggu,” katanya.

Setelah minyak dikumpulkan dan disaring, kemudian ditambahkan larutan alkali sehingga bahan bakar itu dapat digunakan. Gliserin kemudian dibuat menjadi cairan dan sabun batangan, yang ditukar dengan minyak goreng bekas dari restoran.

“Ini program tanpa limbah. Begitu tujuan proyek ini,” kata Britt.

Selain memproduksi bahan bakar, Marein membantu membuat sepeda motor biodiesel, yang diyakini menjadi salah satu yang pertama di Indonesia.

Mereka dibantu seorang montir setempat, teman kelas dan seorang guru dari sekolah yang mendirikan proyek itu, Kyle King.

Bermodalkan sebuah mesin, tim ini bekerja di bengkel selama hampir dua tahun. “Kami menghabiskan empat jam seminggu,” kata Marein.

“Kami harus mengubah dan menyesuaikan berbagai hal, dan ketika akhirnya jadi dan bisa dikendarai, kami senang sekali.”

Kini mereka tengah mengerjakan proyek bahan bakar dengan fermentasi buah, bioetanol, yang dapat dimasukan ke tangki mesin sepeda motor. “Biodiesel ini bisa digunakan pada mesin diesel apa pun. Tak perlu mengubah apa pun.” ujarnya.

Diceritakan, mengumpulkan minyak bekas di Bali tak semudah berjalan ke restoran dan memintanya begitu saja. Pasalnya, minyak bekas seperti itu diperjualbelikan di pasar gelap.

Setelah restoran dan hotel yang lebih besar tidak bisa lagi menggunakannya, maka minyak goreng bekas itu dikemas ulang dan dijual setengah harga ke kafe dan restoran yang lebih kecil. Pada saat akhirnya minyak goreng itu dibuang, diperkirakan sudah digunakan sekitar 40 kali. Jelas risikonya bagi kesehatan.

Sejumlah pihak sudah berkali-kali mengingatkan bahaya penggunaan minyak goreng berkali-kali. Minyak goreng bekas biasanya dikemas ulang dan perjualbelikan di pasar gelap di Indonesia, padahal berbahaya bagi kesehatan jika digunakan berkali-kali.

Para siswa di sekolah hijau Bali ini bukan hanya meminta limbah minyak goreng di restoran, tetapi juga mendidik mereka tentang masalah ini.

“Mereka enggan memberikan minyak goreng bekasnya,” kata Marein. “Karena mereka bisa mendapatkan uang dari situ.” (EP/ABC)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here