Obat HIV Baru Diuji Coba di Amerika

Ilustrasi HIV

Indonesiainside.id, New York – Sejumlah ilmuwan Amerika Serikat (AS) meluncurkan uji klinis pertama untuk menguji kombinasi obat antibodi sebagai pengobatan jangka panjang untuk pengidap human immunodeficiency virus atau HIV.

Institut Nasional Penyakit Alergi dan Penyakit Menular (National Institute of Allergy and Infectious Diseases/NIAID) AS pada Jumat (24/1) mengumumkan bahwa para peneliti tengah mempelajari apakah obat cabotegravir yang bekerja lama (long-acting) dan antibodi yang disebut VRC07-523LS aman dan dapat ditoleransi.

Uji coba Fase 2 itu juga akan menguji apakah kombinasi tersebut dapat mencegah HIV kembali ke tingkat yang dapat terdeteksi pada orang yang sebelumnya menekan virus tersebut dengan mengonsumsi terapi antiretroviral setiap hari.

Obat cabotegravir antiretroviral dapat mengganggu replikasi HIV di dalam sebuah sel dengan mencegah DNA virus menyatu ke dalam DNA sel.

Antibodi mencegah HIV memasuki sel sejak awal dengan langsung mengikat virus tersebut pada lokasi selnya. Antibodi itu menetralkan 96 persen strain HIV pada panel representatif secara global.

Kombinasi obat antibodi-antiretroviral yang ideal akan dilakukan secara mandiri sebagai suntikan tunggal di bawah kulit, seperti cara pengidap diabetes saat menyuntikkan insulin ke diri mereka sendiri, setiap delapan pekan atau lebih, menurut NIAID.

Uji coba itu akan berlangsung di 18 lokasi di AS dan Puerto Rico. Para peneliti akan melibatkan 74 orang berusia 18 tahun atau lebih yang mengidap HIV dan telah mengonsumsi terapi antiretroviral setiap hari, sehingga berhasil membuat virus terbatasi selama dua tahun atau lebih. Hasil uji coba tersebut diperkirakan akan keluar pada 2022.(EP)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here