Batan Manfaatkan Sinar Gamma untuk Membuat Vaksin Covid-19

Ilustrasi vaksin. Foto: cbc

Indonesiainside.id, Jakarta-Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) berencana membuat vaksin virus corona atau covid-19 dengan memanfaatkan radiasi sinar gamma. Vaksin dianggap sebagai cara efektif untuk menghindari wabah Covid-19.

Menurut Peneliti Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR), Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Mukh. Syaifudin, vaksin merupakan zat yang mengandung bakteri atau virus yang mati atau dilemahkan yang dapat dijadikan pemicu untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit tertentu. Pemberian vaksin dianggap sebagai cara yang efektif untuk menghindari sebuah penyakit, diantaranya tetanus, tifus, polio dan lainnya.

Ketika vaksin dimasukkan ke dalam tubuh, sistem keamanan tubuh yang bernama sel limfosit, merespon dengan memproduksi antibodi. Antibodi inilah akhirnya melawan virus dan memproteksi tubuh agar tidak mengalami infeksi.

Syaifudin menuturkan, teknologi nuklir dapat dimanfaatkan untuk membuat vaksin dengan memanfaatkan radiasi sinar gamma. “Secara teknis fasilitas radiasi gamma dapat dimanfaatkan untuk membuat vaksin,” ujar Syaifudin, Jumat (10/4).

Termasuk virus covid-19 ini menurut Syaifudin, kedepan dapat dibuatkan vaksinnya dengan memanfaatkan radiasi sinar gamma. Namun, mengingat tingkat penyebaran virus covid-19 sangat cepat dan membahayakan, maka dalam pembuatan vaksin diperlukan fasilitas pendukung seperti laboratorium bio safety level 3 (BSL 3) dan alat pelindung diri (APD) yang memadai selama preparasi.

Pada prinsipnya, untuk membuat vaksin dapat dilakukan dengan beberapa metode, yakni dengan pemberian bahan kimia seperti formalin, pemanasan, atau dengan radiasi sinar gamma. Adapun tahapan pembuatan vaksin dengan memanfaatkan radiasi sinar gamma dimulai dari penyiapan sumber virus, melakukan radiasi, hingga pengujian efektivitas.

Tahapan ini dapat dikatakan praklinis dan membutuhkan waktu 6 bulan hingga 1 tahun. Yang harus dipersiapkan tentunya tersedia vaccine seed atau virus itu sendiri yang ada di dalam inangnya yang pas, lalu dilakukan proses iradiasi. Kemudian dilakukan pemurnian yang diikuti dengan uji efektivitas baik pada kultur sel atau hewan coba atau sukarelawan,” tambahnya.

Menurutnya, radiasi sinar gamma dengan daya tembus yang besar dapat mengarah langsung ke asam nukleat tanpa merusak epitop di permukaan sel, digunakan untuk melemahkan virus sehingga diharapkan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangannya. Karena ukurannya sangat kecil maka diperlukan intensitas radiasi hingga 50 kilogray (kGy) untuk merusak asam nukleat agar virus tidak bisa memperbanyak diri.

“Ketika virus yang lemah dan tidak mampu bereplikasi atau memperbanyak diri serta tidak menimbulkan infeksi ini diberikan, maka akan memicu respon kekebalan tubuh dengan membentuk antibodi untuk menghadapi virus tersebut,” tutur Syaifudin. (SD)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here