Indonesia Perlu Gunakan Teknologi Informasi Untuk Melacak Covid-19 di Masyarakat

Polisi memberikan masker kepada pengendara sepeda motor saat penerapan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kawasan menteng, Jakarta (11/4/2020). Iimbauan ini dilakukan agar masyarakat menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama 14 hari, yang salah satu aturannya adalah pembatasan penumpang kendaraan serta anjuran untuk menggunakan masker jika berkendara. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/hp.

Indonesiainside.id, Jakarta – Indonesia diminta mempertimbangkan penerapan teknologi sistem informasi seperti yang dilakukan Singapura untuk melacak individu yang melakukan atau menjalin kontak dengan kasus-kasus Covid-19 di masyarakat.

“Penerapan teknologi sistem informasi tersebut sangat membantu khususnya dalam menjalankan langkah pelacakan individu yang melakukan atau menjalin kontak dengan kasus-kasus Covid-19 di masyarakat,” ujar Profesor Tikki Pangestu dari Pengamat kebijakan National University of Singapore dalam seminar daring di Jakarta, Jumat(10/4).

Dijelaskannya, Singapura menjalankan dan mengimplementasikan sistem informasi yang sangat efektif dengan menggunakan big data dan kecerdasan buatan dalam rangka pengawasan dan pelacakan sangat efektif terhadap kasus-kasus Covid-19 yang terjadi di dalam masyarakat.

“Kebetulan langkah penerapan teknologi informasi dalam pengawasan dan pelacakan kasus-kasus Covid-19 ini juga dilakukan dengan sangat baik oleh Tiongkok,” tambahnya.

Tikki Pangestu menilai Singapura mungkin merupakan sebuah negara yang bereaksi cepat sekaligus mengantisipasi skenario-skenario yang kemungkinan terjadi terkait pandemi Covid-19.

“Hal yang paling terpenting saat ini adalah pentingnya kecepatan reaksi dan antisipasi.Keduanya sangat krusial untuk menghambat penyebaran pandemi Covid-19,” kata pengamat yang pernah menjabat sebagai Director of Research Policy & Cooperation World Health Organization (WHO) tersebut.

Selain penerapan teknologi sistem informasi yang baik, Singapura juga melakukan pemantauan dan pembendungan pandemi Covid-19 dengan berfokus pada tes pemeriksaan yang cepat, masif dan kurat untuk mengetahui kasus-kasus positif Covid-19.

Kemudian melakukan isolasi dan pelacakan kontak secara luas dalam rangka mengisolasi atau “ring fence” kasus-kasus Covid-19 di dalam kluster-kluster atau zona merah serta mencegah penyebaran ke komunitas lebih luas.

Singapura juga menjalankan social distancing dan pembatasan mobilitas yang mencakup pembatasan arus keluar masuk di dalam wilayah dan ke luar Singapura, lalu pemberlakukan kebijakn stay and work from home, pelarangan atau pembatasan public gathering dan mobilitas individu.

“Salah satu hal paling penting yang dilakukan Singapura dalam menanggulangi pandemi Covid-19 adalah melindungi para tenaga medisnya yang berjuang di garda terdepan dengan alat-alat pelindung diri atau APD,” kata Tikki. (EP/ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here