Menyesuaikan Teknologi, Praktisi: Idealisme Media Massa Ikut Tergadai

Ilustrasi SEO. Foto: Istimewa

Indonesiainside.id, Jakarta – Gaintech berpengaruh kuat terhadap penetrasi dan perkembangan media start up yang belakangan ini bermunculan. Gaintech berhasil membentuk valuasi lain, seperti engagement, traffic, aset-aset digital, dan kalkulasi akuntansi yang sangat detail.

“Para pengambil keputusan sangat sibuk memikirkan bagaimana rencana ke depannya, karena algoritma valuasinya harus diakui ikut dibentuk oleh sistem ini,” kata praktisi media, Zen RS dalam diskusi, Sabtu (1/8) malam.

Lebih lanjut, pendiri Pandit Football Indonesia ini menyampaikan media start up yang sejak awal tumbuh untuk menjaga keseimbangan bernegara, menjadi pilar keempat demokrasi, dan check balances, namun karena tumbuh dalam sistem kapital yang mengedepankan valuasi, maka idealisme media harus ikut bermain. Teknologi memungkinkan mereka bermain dia wajah.

“Misalnya, tulisan-tulisan jadwal Imsak, pengumuman SMPTN, itu tidak muncul kalau di klik, tapi kalau di-googling akan terlihat. Repotnya, media-media yang baru untuk bertahan dari sisi kinerja akan kewalahan,” ujarnya.

Bahkan, media sebesar New York Times mengambil opsi untuk menyesuaikan platform medianya. Dari sinilah disrupsi media bermunculan, istilah seperti manajer SEO, manajer media sosial, dan penelitian pengembangan (litbang) yang merekam percakapan di media sosial.

“Para developer ini kemudian membuat mesin yang menebak kata paling banyak dicari, mulai dari seribu hingga jutaan. Ini pilihan-pilihan paling buruk yang akhirnya media ikut melakukan, ini juga yang disebut attention economy, di mana para pemilik informasi bukan lagi orang yang punya kapasitas, tapi mesin yang menguasai algoritma,” katanya.

Begitu pun dengan industri TV, mereka saat ini kerepotan dan kewalahan dengan akun media sosial, seperti YouTube dan Facebook. Menurut Zen, tantangan ini berat karena media yang fokus pada produksi konten tak lagi berfokus pada upaya pembangunan.

“Google analytics bisa sangat presisi untuk pengambilan kebijakan, dan kita juga akan repot sekali apabila memiliki algoritma. Ini tantangan jurnalisme ke depan, termasuk apabila bicara peran jurnalis sendiri dihadapan influencer,” tuturnya. (ASF)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here