Kebun Raya Belanda Bergembira setelah ‘Pohon Penis’ asal Indonesia Mulai Mekar

Kebun Raya Belanda Bergembira setelah 'Pohon Penis' asal Indonesia Mulai Mekar

Tanaman Amorphophallus decus-silvae ata 'Pohon Penis' asal Indonesia di Hortus Botanicus Leiden

Indonesiainside.id, Jakarta—Sebuah tanaman yang berdiri lebih tinggi dari manusia dewasa, berbau daging membusuk dan baru-baru ini mekar di kebun raya tertua di Belanda, membuat kembira staf taman dan pengunjung. Amorphophallus decus-silvae, sejenis “tanaman penis”, mekar untuk pertama kalinya minggu lalu setelah sekitar enam tahun pertumbuhan, menurut pernyataan dari Universitas Leiden, yang mendirikan kebun, Hortus Botanicus Leiden, pada tahun 1590, dikutip Livescience.com.

Relawan kebun Rudmer Postma awalnya membudidayakan tanaman yang menjulang tinggi dari potongan daun dan dengan rajin merawatnya selama bertahun-tahun, lapor surat kabar Belanda NRC. Bagian tanaman tumbuh di bawah tanah sebagai “umbi”, dan bagian lain menyembul melalui tanah, kata Postma kepada NRC.

Pada pertengahan September, A. decus-silvae menumbuhkan kuncup untuk pertama kalinya, menunjukkan bahwa tunas itu akan segera mekar. Selama sebulan terakhir, kuncup tumbuh setinggi sekitar 1,6 kaki (0,5 meter), dan batang penyangganya sekarang memiliki panjang 6,5 kaki (2 m).

Pada 19 Oktober, kuncup itu akhirnya terbentang, memperlihatkan struktur tegak berdiri dengan bangga di tengahnya, menurut pernyataan Universitas Leiden. Struktur seperti lingga putih ini, yang disebut spadix, memanjang ke atas dari kerah dedaunan ungu bergaris, yang dikenal sebagai spathe.

Ini adalah spadix yang menghasilkan bau khas tanaman penis, aroma tajam yang mengingatkan pada daging yang membusuk. Sejak ditemukan di Eropa, bunga ini hanya mekar tiga kali.

Terakhir kali tanaman penis mekar di taman adalah tahun 1997, tetapi spesiesnya berbeda dengan A. decus-silvae. A. decus-silvae yang baru-baru ini terbentang mekar selama dua hari, dan mungkin bertahun-tahun sebelum tanaman itu mekar lagi, menurut pernyataan Universitas Leiden.

“Mekar menghabiskan begitu banyak energi bagi umbi bawah tanah sehingga harus dihemat selama beberapa tahun,” kata van Vugt kepada NRC. “Dibutuhkan enam atau tujuh tahun sebelum cukup besar untuk berbunga lagi.”

“Saya cukup bangga,” kata Postma kepada NRC tentang mekarnya tanaman tersebut baru-baru ini. “Sungguh istimewa bahwa kami berhasil sama sekali,” mengingat tanaman itu hanya akan mekar dalam kondisi tertentu, “dan saya bangga tanaman itu tumbuh dengan baik.”

Di habitat aslinya di Pulau Jawa,  Indonesia, pohon ini membutuhkan waktu hingga tujuh tahun untuk mekar. Diperkirakan ribuan pengunjung akan mengunjungi kebun raya untuk melihat sendiri keunikan pohon tersebut. Sebagai catatan, pohon itu juga menghasilkan buah yang bisa dimakan. (NE)