Indonesiainside.id, Jakarta—Pemerintah perlu mengalokasikan lebih banyak dana dan sumber daya untuk menjaga kesejahteraan mental anak-anak dan remaja.
Itulah salah satu temuan laporan “State of the World’s Children” yang dilakukan oleh United Nations Children’s Fund (UNICEF) yang antara lain juga menekankan bahwa pandemi COVID-19 menjadi salah satu faktor utama dalam hal tersebut. Studi kesehatan mental anak dan remaja yang dilakukan merupakan temuan paling komprehensif secara global.
UNICEF juga menekankan bahwa studi lebih lanjut mungkin memakan waktu lebih lama untuk mempelajari dampak pandemi pada kelompok tersebut. Psikolog menemukan stres dimulai sejak sekolah mulai tutup dan anak-anak harus terus belajar di rumah.
Bahkan anak-anak dan orang dewasa juga mengalami ide bunuh diri, kecemasan, masalah makanan dan beberapa kesulitan lain yang dialami sejak blokade dimulai di antara faktor kesehatan mental yang terpengaruh.
Tak hanya itu, transisi hidup yang drastis menjadi tidak bertemu teman dan COVID-19 yang menyebabkan kematian orang-orang terkasih juga menyebabkan depresi pada anak.
Krisis yang muncul ini semakin memperumit tim medis terutama psikolog anak yang sebelumnya menghadapi kekurangan sumber daya.
UNICEF juga menekankan bahwa investasi dalam mempromosikan pentingnya menjaga kesehatan mental berada pada tingkat yang sangat rendah.
Menurut Penulis Utama Laporan Anak Dunia UNICEF, Zeinab Hijazi, total biaya 387,2 miliar dolar AS diperlukan untuk mengatasi masalah ini.
“Kami melihat kondisi kesehatan mental anak usia 0-19. Kami menemukan total biaya yang dibutuhkan US$387,2 miliar. Dan ini mengkhawatirkan.
Dan pada dasarnya apa yang dikatakan ini menegaskan bahwa selain biaya kesehatan mental bagi individu, keluarga, dan komunitas, itu juga memberi tekanan pada kita dan keluarga, ”jelasnya.
Sementara itu, UNICEF juga menjelaskan bahwa beberapa kekhawatiran lain juga muncul yang menyebabkan kesehatan mental menurun, antara lain rasa takut jatuh sakit, perintah pembatasan, penutupan sekolah dan tidak dapat kembali ke kehidupan normal sebelum COVID.
Meskipun anak-anak dan remaja tidak berisiko meninggal akibat COVID-19 dibandingkan dengan orang tua dan mereka yang memiliki penyakit penyerta, UNICEF memperingatkan bahwa pandemi dapat menyebabkan kesehatan mental terpengaruh dalam jangka panjang.
Orang dipersilakan untuk mengajukan keluhan jika menghadapi ketidakstabilan emosi. (NE)














