Indonesiainside.id – Republik Demokratik Kongo (DRC) kembali diguncang oleh ancaman kesehatan serius. Kementerian Kesehatan setempat baru saja mengumumkan gelombang wabah baru yang memicu kekhawatiran global. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 246 kasus yang dicurigai dengan angka kematian mencapai 80 orang di provinsi terpencil, Ituri.
Berbeda dengan wabah sebelumnya, kali ini virus yang menyebar adalah spesies langka bernama Ebola Bundibugyo. Spesies ini dikenal sangat sulit dideteksi oleh alat tes lapangan standar, dan hingga kini belum ada vaksin atau terapi medis yang berlisensi untuk mengatasinya.
Kronologi Penyebaran dan Lolos dari Deteksi Awal
Kasus pertama yang teridentifikasi menimpa seorang perawat yang mulai bergejala pada 24 April dan meninggal dunia di Pusat Medis Evangelis di Bunia, ibu kota Ituri. Pengujian sampel di Institut Nasional Penelitian Biomedis (INRB) Kinshasa mengonfirmasi bahwa delapan pasien positif terinfeksi, di mana empat di antaranya merupakan tenaga medis. Kondisi ini mengindikasikan bahwa penularan telah terjadi di dalam fasilitas kesehatan.
Penyebaran ini bahkan telah melewati batas negara. Seorang pria Kongo dilaporkan meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Uganda pada 14 Mei dan dinyatakan positif Ebola, memicu alarm kewaspadaan internasional terkait risiko penyebaran lintas batas.
Kepala Epidemiologi dan Kesehatan Global di INRB, Placide Mbala, mengungkapkan bahwa keterlambatan deteksi ini terjadi karena alat uji awal di Bunia menggunakan mesin Genexpert. Alat tersebut dirancang khusus hanya untuk mengenali spesies Ebola Zaire—varian yang paling umum memicu wabah di Kongo. Akibatnya, sejumlah sampel yang diambil dari zona kesehatan Aru dan Rwampara sempat menunjukkan hasil negatif palsu sebelum akhirnya divalidasi ulang di laboratorium pusat Kinshasa melalui uji genetik PCR.
Karakteristik Ebola Bundibugyo: Sulit Dideteksi, Minim Penawar
Ebola Bundibugyo pertama kali diidentifikasi pada tahun 2007 di Distrik Bundibugyo, Uganda barat, yang menewaskan 42 orang dari 131 kasus. Kongo sendiri pernah menghadapi spesies ini pada tahun 2012 dengan catatan 57 kasus penularan dan 29 kematian.
Gejala klinis varian ini menyerupai Ebola Zaire, namun absennya vaksin pelindung menjadi tantangan terbesar saat ini. Ahli virologi dari Universitas Manitoba, Jason Kindrachuk, menyebutkan bahwa ketiadaan vaksin berlisensi untuk Bundibugyo akan membuat upaya penanganan di lapangan menjadi jauh lebih berat dibandingkan penanganan wabah-wabah sebelumnya.
Selain faktor biologis virus, tim medis di lapangan juga harus berpacu dengan situasi keamanan yang mencekam di Ituri. Wilayah yang kaya akan mineral ini sedang menjadi perebutan kekuasaan oleh beberapa kelompok milisi bersenjata, termasuk CODECO dan Pasukan Demokratik Sekutu yang berafiliasi dengan ISIS.
Placide Mbala mengkhawatirkan situasi ini akan mengulang memori kelam wabah Ebola tahun 2018 di DRC timur, yang menjadi wabah terbesar akibat konflik lokal. Masalah keamanan yang memaksa penghentian investigasi lapangan berdampak langsung pada bebasnya virus menyebar tanpa terkendali di tengah masyarakat yang mobile.
Merespons situasi kritis ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bergerak cepat dengan mengirimkan tim darurat serta bantuan alat pelindung diri ke Ituri. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengumumkan pengucuran dana taktis sebesar $500.000 dari Dana Kontingensi untuk Keadaan Darurat demi menyokong operasi penyelamatan.
Meskipun dihadapkan pada skenario tersulit, Kongo dinilai memiliki modal pengalaman yang kuat. Para pekerja medis garis depan di negara ini memiliki rekam jejak panjang dalam meredam wabah melalui protokol standar seperti isolasi ketat, pelacakan kontak erat, dan karantina wilayah.
Meski demikian, ahli epidemiologi dari Universitas California Los Angeles, Anne Rimoin, memperingatkan bahwa kompleksitas patogen ini akan menjadi ujian nyata bagi ketangguhan infrastruktur keamanan kesehatan global dalam menghadapi ancaman pandemi baru.(Nto)













