Indonesiainside.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Senin pagi (18/5). Pelemahan rupiah terjadi di tengah kenaikan harga minyak dunia dan melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah AS yang memicu tekanan terhadap mata uang negara berkembang di Asia.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.02 WIB di pasar spot exchange, rupiah ambles 51 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.648 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS tercatat naik 0,06 persen ke level 99,34. Padahal pada perdagangan sebelumnya, Rabu (13/5), rupiah sempat ditutup menguat 53 poin di level Rp17.475 per dolar AS.
Pelemahan mata uang Asia dipicu kenaikan harga minyak yang membebani negara-negara pengimpor energi. Yang akhirnya rupiah pun menjadi salah satu mata uang Asia yang paling sensitif terhadap kenaikan yield obligasi AS karena faktor tekanan domestik.
Berdasarkan data LSEG, dolar AS tercatat menguat terhadap sejumlah mata uang Asia lainnya. Dolar naik 0,2 persen terhadap peso Filipina ke level 61,683, menguat 0,4 persen terhadap won Korea Selatan ke level 1.504,00, serta naik 0,1 persen terhadap dolar Singapura ke posisi 1,2811.
Adapun, Pengamat Pasar Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut sepanjang pekan ini. “Bisa saja di Rp17.800-an, bisa saja di Rp17.850,” kata Ibrahim dalam keterangannya.
Ia bahkan menilai rupiah berpotensi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS apabila tekanan eksternal belum mereda.
“Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp18.000 akan tembus,” katanya.















