Oleh: Herry M Joesoef
Indonesiainside.id, Jakarta — Nilai pahala sedekah itu akan terus mengalir, bahkan setelah yang memberi telah wafat. Di antaranya adalah mewakafkan harta di jalan Allah. Jenisnya bisa bermacam-macam, membangun sumur untuk kepentingan umum, membangun masjid, membangun sekolahan, membangun panti asuhan yatim dan duafa, mendermakan anggota tubuh, dan seterusnya.
Intinya, manusia hidup mesti memberi manfaat pada lingkungan sosialnya. Karena memberi itu adalah kerja iman, maka ia mesti terus dihidupkan dalam sanubari dan dilaksanakan dengan pengamalan. Para imam terdahulu telah mengajarkan pada kita, bahwa memberi manfaat itu tidak boleh berhenti, harus terus bergerak dan bergerak sampai ajal menjemput.
Imam Bukhari dan Imam Muslim, misalnya, telah mendedikasikan dirinya pada pengumpulan hadits-hadits shahih, begitu pula dengan imam-imam lainnya. Tengoklah Ibnu Taimiyah dengan kitab Majmu Fatawa-nya yang berjilid-jilid itu, Imam Nawawi dengan kitab Riyadhus Shalihin, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dengan kitab Fathul Bari dan Bulughul Maram, dan masih banyak lagi contoh.
Memberi itu kerja iman, ia mesti terus bergerak. Jika kita memberi dalam bentuk fisik, seperti bangunan dan sejenisnya yang memberi manfaat bagi umat manusia, maka sepanjang itu pula pahalanya terus mengalir. Begitu pula jika kita meninggalkan jejak-jejak ilmu, seperti menulis buku, maka sepanjang ilmunya itu dipelajari dan bermanfaat bagi banyak orang, maka sepanjang itu pula ilmunya terus mengalir. Dahsyat bukan?
Karena itu, ayo infakkan apa yang bisa kita infakkan, baik ilmu, fikiran, tenaga, maupun harta benda kita. Imam Ahmad bin Hambal, seorang ulama salaf, pernah mengingatkan kita, “Jika ada peluang untuk mengerjakan kebaikan, lekaslah engkau kerjakan kebaikan itu, sebelum datang sang pemisah, antara dirimu dengan kebaikan itu.” Sebuah mutiara nasihat yang agung, yang mesti dilaksanakan, sebelum semuanya terlambat. (HMJ)














