Secara sederhana, arti dari ‘harta’ adalah setiap yang dapat dimiliki oleh individu atau kelompok dan dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya yang terdiri dari barang, komoditas perdagangan, properti, mata uang, hewan, kendaraan, dan sebagainya.
Manusia, sebagai wakil Allah di muka bumi (khalifah) diberi mandat untuk mengelola sekaligus memiliki harta, tetapi hakikat kepemilikan harta adalah kembali kepada pemilik bumi dan segala isinya: Allah ta’ala. Karena itulah, seyognya, tindakan seseorang yang diamanahi harta harus sesuai kehendak pemilik aslinya, dengan cara mengeluarkan sebagian harta pada jalan yang telah ditentukan baik itu zakat, infak, maupun sedekah, demikian pula, harus mendapatkan harta dengan cara yang diridhahi Allah.
Orang muslim jika mampu mimiliki harta sebanyak mungkin atau kaya raya itu jauh lebih bagus, terhormat, terpandang dan mulia, dibandingkan dengan muslim yang miskin dan tidak berdaya. Nikmat yang terbaik adalah ketika harta itu melekat pada orang baik, sebab jika harta ada pada orang baik, akan dibelanjakan kepada jalan kebaikan, jika berada pada orang jahat, maka harta tersebut besar kemungkinan akan dibelanjakan pada jalan kejahatan dan kebatilan.
Seharusnya orang baik, beriman, dan bertakwa adalah mereka yang memiliki harta yang banyak karena mereka akan membelanjakan hartanya di jalan-jalan kebaikan, sehingga kebaikan tegak dan kebatilan akan runtuh. Jika kebatilan kian semarak, maka itu tanda bahwa banyak orang yang memiliki harta tapi dibelanjakan di jalan yang salah, atau jumlah orang salah melebihi banyaknya orang shaleh. Tentang anjuran orang bertakwa, shaleh, untuk menjadi kaya, dapat dilihat dari sabda Nabi berikut,
لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ
“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
***
Harta adalah nikmat sekaligus fitnah (ujian) dan bencana ketika membuat seseorang jauh dari pemilik asalnya, inilah yang dimakaud oleh sabda Nabi,
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah bagi umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi no. 2336, Ahmad [IV/160], Ibnu Hibban no. 2470).
Penggila harta dan pencinta dunia yang lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada akhirat adalah orang yang merugi dan sengsara di dunia maupun di akhirat. Harta yang diburu dengan tamak dan melalaikan tujuan akhirat akan membuatnya meninggal dalam keadaan su`ul khotimah. Ibnul Qayyim menceritakan sebuah kisah, “Sebagian saudagar bercerita kepadaku, ada salah seorang kerabatnya sedang sekarat. Waktu itu dia sedang berada di dekatnya. Lalu orang-orang mentalkinkan kepadanya kalimat tayibah, tapi dia malah berkata, Barang ini murah, pembeli ini baik, dan barang ini demikian … demikian.’ sampai meninggal.” (Al-Jawabul Kafi, hlm. 91).
Abdul Haq berkata, “Dikatakan pada seseorang yang aku kenal di saat dia hendak meninggal, ‘Katakan La Ilaha Illallah!’ Dia malah berkata, ‘Rumah anu perbaiki bagian ininya dan kebun anu kerjakan di sana.’ Demikian lalu meninggal.” (Al-Jawabul Kafi, hlm. 166)
Harta dan segala perhiasan dunia mampu menyihir hati manusia yang kosong dari keimanan pada kehidupan akhirat. Hingga menjelang ajal segala kenikmatan dunia masih menari-nari di pelupuk matanya. Orientasi obsesi dunia selalu memenuhi hatinya seolah dia hidup selamanya. Tepatlah kondisi ini sebagaimana dikabarkan dalam sebuah hadits,
يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ الْعُمُرِ
“Anak Adam [manusia] semakin tua dan menjadi besar juga bersamanya dua hal: cinta harta dan panjang umur.” (HR. Al Bukhari no. 6421 dan Muslim no. 1047 dari Anas bin Malik radhiyallahu’ ‘anhu).
Dari Abu Hurairah, ia berkata Nabi bersabda,
قَلْبُ الشَّيْخِ شَابٌّ عَلَىٰ حُبِّ اثْنَتَيْنِ : طُوْلُ الْـحَيَاةِ وَحُبُّ الْمَالِ
“Hati orang tua renta senantiasa muda dalam mencintai dua perkara, hidup yang panjang dan cinta terhadap harta.” (HR. Al-Bukhari no. 6420 dan Muslim no. 1046)
Mukmin cerdas hendaklah lebih fokus mengejar akhirat untuk membangun istana di surga dan tidak terlalu menyibukkan dirinya membangun kehidupan dunia, namun lupa mengumpulkan bekal untuk akhirat. Justru ketika ia cerdas memanfaatkan harta dunia dengan amal shalih maka inilah harta dunia yang diberkahi Allah Ta’ala. Merekalah mukmin yang cerdas dunia akhirat. Semakin usia tak muda lagi, justru kian bersemangat untuk mencintai kehidupan akhirat, terlebih lagi ketika diberikan harta dunia berlebih maka mereka akan antusias memanfaatkannya untuk bekal di akhirat. Hati dan pikiran tetap sibuk untuk mencari keselamatan akhirat.
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, Rasulullah bersabda,
«أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا مِنَّا أَحَدٌ إِلَّا مَالُهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ، قَالَ: «فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ، وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ»
“Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?” Mereka menjawab, ‘Ya Rasulullah! Tidak ada seorangpun di antara kami melainkan lebih mencintai hartanya sendiri.’ Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya hartanya sendiri itu apa yang telah dipergunakannya [disedekahkannya] dan harta ahli warisnya ialah apa yang ditinggalkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6442)
Semoga kita tidak tersihir hatinya dengan kenikmatan harta dari Allah ta’ala, menjadi ahli akhirat. Ibnu Taimiyah berkata, “Berhati-hatilah kalian dari dua golongan manusia, orang yang menuruti hawa nafsunya yang telah tertipu olehnya dan dan ahlul dunia yang telah di tenggelamkan oleh dunianya.” (Iqtidha’ush Shirathil Mustaqim hal. 5).
Ibnu Qayyim juga berkata, “Waspadalah kalian terhadap dua tipe manusia, pengikut hawa nafsu yang diperbudak oleh hawa nafsunya dan pemburu dunia yang telah dibutakan hatinya lantaran dunia yang telah dicapainya,” (Ighatsatul Lahfan, II: 586).
Saatnya lebih dekat pada pencinta akhirat yang memburu kebahagiaan kekal daripada penggila dunia yang membuat hati sibuk memikirkan dunia dengan segala kelezatannya. Berdoa pada Allah ta’ala agar selamat dari jebakan fitnah harta sehingga mati dalam kondisi khusnul khatimah.
diadaptasi dari tulisan Isruwanti Ummu Nashifa.
Enrekang, 14 Agustus 2022.







