BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) bekerjasama dengan FISIP Universitas Sriwijaya telah menyelenggarakan seminar kebangsaan dengan tema “Pancasila untuk Dunia, Menjawab Tantangan Global dan Geo-Politik” pada 12 Juni 2025 di Gedung Pasca Sarjana, Unsri, Bukit Besar, Palembang.
Seminar yang diadakan dalam rangkaian peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni tersebut dibuka oleh Direktur Sosialisasi dan Komunikasi BPIP, Prof. Dr. Agus Najib dan Dekan FISIP Unsri, Prof. Dr. Alfitri, dengan menghadirkan para narasumber Dr. Darmansjah Djumala, Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri; Dr. Zulfikri Suleman, Dosen FISIP Unsri; dan Mohammad Fauzi, staf Kesbangpol Pemda Sumsel. Seminar dihadiri baik sekitar 600 peserta, terdiri dari para civitas akademika Unsri, mahasiswa, alumni Paskibraka, dan peminat kajian ilmu hubungan internasional, baik hadir secara fisik maupun online.
Dalam paparanya yang berjudul “Pancasila, Dari Indonesia Untuk Dunia: Diplomasi Indonesia dalam Dinamika Politik Nasional dan Global”, Dr. Djumala memaparkan beberapa dinamika politik nasional dan global yang telah menguji kekuatan Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia. Diungkapkan oleh Dubes Djumala, yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Austria dan PBB di Wina, Pancasila pernah mengahadapi tantangan baik dalam level nasional maupun global.
Di tingkat nasional, Pancasila pernah menghadapi pemberontakan ideologis; yaitu ideologi kiri yang memperjuangkan sosialis-komunis dan ideologi kanan yang menginginkan Indonesia menjadi negara Islam. Tetapi kerena kesepakatan para founding fathers pada 1945 bahwa Indonesia adala negara kebangsaaan, bukan negara komunis maupun agama, Pancasila tetap sebagai ideologi negara. Indonesia tetap utuh sebagai negara bangsa yang berideologi Pancasila.
Sementara di level global, Pancasila teruji oleh dinamika politik dunia. Selama Perang Dingin (1947-1989) banyak negara bubar dan pecah, Indonesia tetap utuh. Tatkala Tembok Berlin runtuh (1991) di pengujung Perang Dingin, banyak negara di kawasan Eropa Timur, Baltik, Balkan, dan Asia Tengah mengalami disintegrasi dan hancur akibat konflik etnik dan agama, Indonesia tetap solid sebagai negara bangsa.
Tragedi 11 September 2001 di New York memantik kecurigaan antara Barat dan dunia Islam. Namun, Indonesia justru menjadi role model sebagai negara mayoritas Muslim yang dapat mengadopsi demokrasi. Demokrasi dan Islam ternyata berjalan seiring di Indonesia. Manakala Arab Spring pada 2011 meniupkan angin demokrasi di kawasan Arab Timur Tengah dan memorakporandakan negara-negara di kawasan itu dalam kecamuk perang saudara, Indonesia tetap kokoh dalam negara kesatuan.
Dubes Djumala mengungkapkan bahwa Pancasila diakui mengandung nilai universal karena pada Mei 2023 PBB-UNESCO mengakui Pancasila yang diperkenalkan Bung Karno di PBB pada September 1960 sebagai Memory of the World (Warisan Arsip Dunia). Karena sifatnya yang universal, bisa diterima semua ideologi, Pancasila adalah ideologi perdamaian. “Pengakuan terhadap pidato Bung Karno di PBB sebagai Warisan Arsip Dunia oleh UNESCO menjadi modalitas Indonesia untuk mempromosikan Pancasila dalam diplomasi di tataran global. Nilai Pancasila relevan untuk mengatasi masalah dunia yang dilanda konflik etnik dan agama.
Kini naskah pidato Bung Karno tentang Pancasila itu terbuka untuk digunakan para peneliti, akademisi, dan praktisi mancanegara dalam mempelajari Pancasila sebagai disiplin ilmu filsafat dan politik untuk menengahi konflik berlatar sosial-budaya”, demikian Dubes Djumala.







