Oleh : Eko P |
AS memberikan sanksi ekspor terhadap perusahaan minyak milik negara Venezuela, PDVSA. Hal ini mendorong Venezuela mengalihkan ekspor ke China dan India.
Indonesiainside.id, Jakarta — Harga jual minyak dunia stabil di perdagangan Asia pada Rabu pagi meski tertekan oleh prospek ekonomi global yang suram. Hal itu didukung oleh kekhawatiran atas gangguan pasokan dari sanksi-sanksi AS terhadap ekspor Venezuela.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS diperdagangkan di 53,28 dolar AS per barel pada pukul 01.11 GMT (08.11 WIB), tiga sen di bawah penutupan terakhir..
Sementara minyak mentah berjangka internasional Brent berada satu sen di atas penutupan terakhir dan diperdagangkan di 61,33 dolar AS per barel.
Kondisi tersebut mengikuti lonjakan harga dua persen pada sesi sebelumnya, ketika pasar mencermati sanksi-sanksi AS terhadap ekspor minyak Venezuela.
AS memberikan sanksi ekspor terhadap perusahaan minyak milik negara Venezuela, PDVSA. Juga membatasi transaksi antara perusahaan-perusahaan AS yang melakukan bisnis dengan Venezuela melalui pembelian minyak mentah dan penjualan produk-produk olahan.
Sanksi tersebut, untuk membekukan hasil penjualan ekspor PDVSA sekitar 500.000 barel per hari (bph) minyak mentah ke Amerika Serikat. Ini menjadi sanksi keuangan AS terberat yang belum pernah dihadapi presiden sosialis Venezuela, Nicolas Maduro.
“Volume ekspor (Venezuela) tidak akan bisa dihilangkan dari pasar, tetapi dialihkan ke negara lain,” kata Paola Rodriguez-Masiu, seorang analis di konsultan Rystad Energy kepada Reuters, Rabu (30/1)
“China dan India akan dapat mengambil volume minyak ini dengan diskon besar,” sambungnya.
Analis lain juga menunjuk pelemahan ekonomi global sebagai penangkal kekhawatiran sisi penawaran seperti pembatasan pasokan sukarela oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang dimulai akhir tahun lalu dalam upaya untuk memperketat pasar dan menopang harga.
“Krisis politik Venezuela serta janji Saudi untuk menurunkan produksi lebih lanjut seharusnya mendorong minyak mentah, tetapi menarik ke arah yang berlawanan adalah meningkatnya kekhawatiran tentang pertumbuhan global, terutama China,” kata Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank, Denmark.
Pertumbuhan ekonomi global dan konsumsi bahan bakar diperkirakan melambat tahun ini di tengah sengketa perdagangan antara Amerika Serikat dan China, dua ekonomi terbesar dunia. (EPJ/Ant)














