Oleh: Andryanto S
Indonesiainside.id, Jakarta — Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2019 dari 3,5% menjadi hanya 3,3%. Penurunan proyeksi pertumbuhan itu karena IMF menilai ketidakpastian potensial masih menghantui perekonomian dunia.
IMF dalam laporan World Economic Outlook (WEO) 2019 yang diterbitkan 9 April 2019 menilai ketidakpastian potensial menyebabkan perekonomian dunia menghadapi sejumlah risiko pelemahan. Hal itu terutama terkait ketegangan perdagangan global yang sedang berlangsung, serta faktor-faktor spesifik per negara.
Kepala ekonom IMF Gita Gopinath menjelaskan proyeksi perlambatan pada 2019 semakin meluas. “Ini mencerminkan revisi negatif untuk beberapa ekonomi utama termasuk kawasan euro, Amerika Latin, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia,” kata Gopinath, Rabu (10/4).
Menurut dia, perubahan momentum pertumbuhan terjadi dari paruh kedua 2018, ketika ekonomi dunia dilanda ekspansi global yang melemah secara signifikan. Laporan WEO mengatakan pertumbuhan global tetap kuat di 3,8% pada paruh pertama 2018, tetapi turun menjadi 3,2% pada semester kedua 2018.
Dia menjelaskan pelemahan ekonomi sebagian besar disebabkan situasi ketegangan perdagangan global, tekanan ekonomi makro di Argentina dan Turki. Selain itu, dipengaruhi pula oleh gangguan pada sektor otomotif di Jerman, dan pengetatan keuangan bersamaan dengan normalisasi kebijakan moneter di negara-negara maju yang lebih besar.
Penurunan proyeksi perekonomian global secara tidak langsung mempengaruhi kurs rupiah. Pada Rabu (10/4) siang, nilai kurs rupiah tercatat melemah 0,19% ke level Rp 14.157/US$ dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, menilai penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF ikut mempengaruhi pergerakan rupiah. “Proyeksi ini merupakan yang terendah sejak 2009,” katanya.
IMF sudah tiga kali memangkas proyeksi ekonomi global dalam enam bulan terakhir. Hal yang mendasari IMF untuk memangkas proyeksinya adalah meningkatnya tensi perang dagang serta ketatnya kebijakan moneter dari Bank Sentral AS, The Federal Reserve (Fed).
“Perlambatan ini terutama karena melambatnya pertumbuhan ekonomi pada negara-negara maju dan menandai bebebrapa risiko global seperti naiknya bea masuk pada perdagangan internasional dan gangguan signifikan pada jaring pasokan,” ujar Lana. (*/Dry/Ant)















