Oleh: Andryanto S
Indonesiainside.id, Jakarta – Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menilai ruang untuk penurunan lanjutan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) masih terbuka hingga akhir tahun 2019. Penurunan suku bunga menjadi tren global di tengah upaya mengatasi perlambatan ekonomi dunia yang diperkirakan mencapai titik terlemah sejak krisis keuangan 2008.
Eko mengaku optimistis suku bunga acuan masih bisa diturunkan kembali hingga akhir tahun ini, karena tren saat ini menurun termasuk dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (Fed) yang menurunkan suku bunga acuannya. Meski begitu, dia menilai, BI juga perlu menjaga inflasi apabila suku bunga acuan ingin diturunkan kembali, terutama saat akhir tahun yang biasanya diwarnai permintaan sehingga berpotensi mendorong peningkatan inflasi.
Sebelumnya, pada Rapat Dewan Gubernur periode 18-19 September 2019 di Jakarta, BI memutuskan untuk kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 0,25 persen menjadi 5,25 persen. Keputusan BI menurunkan suku bunga acuan ini merupakan yang ketiga kalinya secara beruntun sejak Juli 2019.
Langkah tersebut ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah keyakinan bank sentral bahwa imbal hasil instrumen keuangan domestik tetap menarik dan inflasi yang tetap terjaga.
Eko menilai penurunan suku bunga acuan BI akan mendongkrak kinerja sektor konsumsi dan kredit modal kerja, karena banyaknya permintaan menjelang momen akhir tahun. “Momentum Natal dan libur akhir tahun biasanya permintaan naik dan ini akan menstimulus kinerja ekonomi. Pada saat seperti itu upayanya dilakukan mulai dari sekarang,” katanya di Jakarta, Jumat (20/9).
Wakil Direktur INDEF itu menambahkan penurunan suku bunga acuan akan lebih banyak mendorong sektor-sektor yang perputaran ekonominya berlangsung cepat seperti konsumsi dan modal kerja untuk perdagangan.
Ketika kinerja sektor itu meningkat, lanjut dia, maka akan turut menggairahkan pertumbuhan sektor riil yang biasanya akan terlihat sekitar tiga bulan setelah kebijakan moneter itu dikeluarkan.
Alumnus Pascasarjana Universitas Indonesia itu menilai keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sangat tepat saat ruang penurunan suku bunga masih terbuka.(*/Dry/Ant)














