Indonesiainside.id, Jakarta-Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Rapolo Hutabarat mendesak pemerintah agar segera merealisasikan janjinya menurunkan harga gas menjadi USD 6 per million british thermal unit (MMBtu). Hal ini penting guna meningkatkan daya saing industri turunan minyak sawit ini.
Rapolo mengungkapkan, tantangan industri ini utamanya masih tingginya harga gas. “Saat ini belum kelihatan jalan keluarnya oleh pemerintah terhadap iindustri ini untuk menurunkan harga gas hingga USD 6 per MMBtu,” ujar dia, Minggu (16/2).
Padahal, kata dia, pemerintah pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 40/2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi. Namun sampai kini nihil realisasinya. Kami meminta pemerintah segera implementasikan peraturan tersebut supaya industri mendapatkan harga gas USD 6 per MMBtu,” ujar dia.
Dia mengatakan, industri oleokimia saat ini masih membeli gas sekitar USD 10 hingga 12 per MMBtu. “Anggota Apolin di kawasan industri Sei Mangke Sumatera Utara masih membeli gas USD 12 per MBBTu karena belum ada pipanisasi kesana. Ini menjadi salah satu hambatan industri ini,” terang dia.
Namun lanjutnya, volume ekspor oleokimia tahun ini diharapkan mengalami pertumbuhan sekitar 11 persen.
Adapun pada tahun 2018 volume ekspor oleokimia sebesar 2,76 juta ton dengan nilai USD 2,38 miliar. Sementara pada Januari-November 2019 volumenya sekitar 3 juta ton senilai USD 2 miliar. Namun hingga Desember 2019 ekspornya bisa mencapai 3,35 juta ton dengan nilai ekspor sekitar USD 2,1 miliar. (*/Dry)














